R. Menyadari Hidup Hanya Milik Allah

قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَِمِيْنَ ﴿ 163 ﴾ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَ اَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. ﴿ 163 .

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku

hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan

demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah

orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

(QS. Al-An’am: 162-163)

Orang yang memiliki sesuatu akan berhak berbuat apa saja terhadap apa yang dimiliki. Jika kita punya uang, maka kita bebas mempergunakan uang itu sesuai dengan keinginan kita. Hidup ada yang punya. Riski ada yang menyediakan. Dan alur kehidupan ada yang mengatur, yaitu Allah. Kehidupan berada dalam genggaman-Nya. Dia ciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Tak ada yang terjadi, kecuali atas ijin-Nya. Susah senang Allah yang tentukan. Semua yang bergulir di dunia ini bergulir menurut rencana yang ditetapkan Allah. Mengikuti rencana Allah, berakhir dengan kebahagiaan. Menyalahi aturan Allah akan berakhir dengan penyesalan.

Orang yang beriman sepenuhnya yakin bahwa hidup adalah milik Allah; dari Allah adanya hidup dan kepada-Nya hidup akan kembali. Sungguh beruntung orang orang yang paling meyakini bahwa hidup di dunia ini hanya singgah sementara. Tidak kekal hidup di dunia. Ada yang datang kemudian ia pergi. Ada memuji, ada pula yang mencaci. Kaya dan miskin silih berganti mengisi hidup ini. Dikala berada, ia tidak sombong. Sedikit riski tidak membuatnya gelisah dan resah, karena Allah sangat Maha Adil kepada semua hamba-Nya. Melihat orang lain dapat nikmat, ia tidak iri hati, karena Allah yang memberi dan Yang membagikan riski. Bahkan, ketika diambil pun hati tidak kecewa atau merasa kehilangan, karena semua hanyalah titipan Allah. Semua makhluk termasuk manusia, Allah-lah yang menjamin kebutuhannya. Tugas manusia hanya gigih berusaha, gigih bekerja, gigih berdo’a, kokoh menjaga keikhlasan, istiqomah dalam beramal, dan gigih dalam bertawakal. Selanjutnya Allah yang menentukan. Biar Allah saja yang mengatur segalanya. Demikian juga dengan kita, biar Allah yang menakar keperluan kita, karena Dia lebih tahu berapa takaran kebutuhan kita. Biarkan diri kita menjadi bagian dari rencana Allah. Dan ikuti skenario yang Allah pilihkan buat kita. Jangan ikuti seruan setan dan hawa nafsu yang hilir mudik dalam hati kita.

Kita jalani apa saja yang Allah mau. Allah tak akan membiarkan seorang hamba terlantar jika ia mengikuti petunjuk-Nya. Biarkan nafas keluar masuk lewat paru-paru kita dan biarkan jantung tetap berdetak mengikuti irama Allah. Hidup sudah Allah desain sebaik mungkin. Mengikuti pola hidup yang Allah tentukan menjadikan hamba itu mandiri. Ia hanya bergantung kepada rahmat Allah. Ia enggan bergantung pada selain Allah. Semua makhluk adalah sama di hadapan-Nya. Sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang terbaik di antara mereka adalah mereka yang paling bertaqwa kepada Allah.

Saat melihat keelokan ciptaan Allah, hati terpesona dengan kebesaran dan keagungan Zat yang Menciptakan semuanya. Tidak satu pun dari makhluk ciptaan-Nya yang sia-sia. Masing-masing mempunyai fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Saling mengisi dan melengkapi antara yang satu dengan yang lain, sebagai sarana bagi manusia menjalankan perintah-Nya. Rasa ta’jub dan pengagungan muncul dari dasar hati yang terpikat oleh keindahan alam yang di desain Allah. Ia tahu bahwa di balik penciptaan alam ini tersirat rahasia keagungan Allah. Hingga ia akhiri pandangannya dengan mengucapkan: “Subhanallah = Maha Suci Allah Pencipta segala sesuatu.”. Bertambah mantap iman dan taqwanya kepada Allah SWT.

Dalam beraktivitas sehari-hari, ia jalani mengikuti prosedur yang ada. Namun, niat dan motivasi dari semua amalnya hanya untuk meraih keridhaan Allah semata. Tubuhnya tetap beraktivitas dan bekerja, tetapi hati tetap bersama Allah. Bekerja dan beraktivitas itu jatah tubuh, sedangkan bergaul dan bersama Allah adalah jatah hatinya. Hati tak pernah terbagi dua, untuk Allah dan yang lain. Cukup hati ini penuh dengan terus bersama Allah. Ia malu jika beramal dengan motivasi karena selain Allah. Karena, semua yang terjadi, semua yang ada, semua riski, itu berasal dari Allah. Bagimana ia beraktivitas karena selain Allah, jika ia tahu Allah yang menggenggam segalanya. Dia awas terhadap apa yang kita lakukan. Allah sediakan balasan terhadap apa yang kita lakukan selama di dunia. Dalam menempuh perjalanan hidup Allah siapkan sarananya. Allah penuhi hajat hidup kita. Allah turunkan pedoman hidup (al-qur’an) dan Dia utus para rasul-rasul-Nya untuk menjadi uswatun hasanah bagi kita, Agar dalam menjalani hidup selalu mengikuti langkah-langkah mereka.

 

Saat musibah dan nikmat silih berganti menghampiri hidup, hatinya selalu husnudzan pada Allah. Ada banyak hikmah yang bersembunyi di balik peristiwa yang sedang terjadi. Ia yakin semua adalah lahan ujian baginya. Ingin hati, tak mau jauh dari Allah. Semua ibadah ditunaikan hanya karena-Nya. Pengorbanan yang ia lakukan sebagai rasa syukur atas karunia Allah. Hidup dan matinya hanya milik Allah. Karena itu, ia berusaha menata diri, menata pikiran, menata pandangan mata, menata mulut, menata semua anggota tubuh dan merawat kebersihan hatinya, sehingga hidup yang ia jalani berada di jalan yang disukai Allah. Ia selalu memuji dan mengagungkan Allah. Ia senantiasa bertaubat dan melakukan koreksi diri serta memperbaikinya. Ia bertekat akan mempersembahkan karya terbaiknya di dunia ini untuk mendapatkan ridha Allah.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan kesombongan di hadapan Allah. Ia hempaskan kebanggaan dan ujub tentang apa pun yang melekat pada dirinya. Ia malu merasa dirinya suci dan ingin di puji. Ia malu menganggap dirinya kuat dan perkasa, karena di hadapan Allah ia tak berarti apa-apa. Ia tak berharga, kecil, dan tak berdaya jika di bandingkan dengan kebesaran Allah. Ia simpuhkan hati dan jiwanya dengan bersujud kepada Allah simbol ketundukan, ketaatan, dan kepasrahan kepada Allah. Ia akui kelemahan diri saat ia menempelkan wajah di bumi Allah. Ia tenggelam dalam suasana kekhusyu’an, tunduk, patuh, taat, dam pasrah kepada Allah; hingga deraian air mata tak terasa membasahi pipinya. Ta’jub dengan kebesaran dan keagungan Allah dan malu dengan kejelekan diri. Ia merasa saat itulah bahwa ia berada di titik terdekat dengan Allah. Ketentraman dan kedamaian terasa berebut menguasai hatinya, bahkan kebahagiaan saat terpesona dengan ke Maha Agungan Allah dapat melupakan segala-galanya.

Allah ciptakan sakit agar manusia merasakan nikmatnya kesehatan, kemudian menghargai kesehatan dengan mengisinya dengan kebaikan. Allah jadikan miskin, agar manusia dapat mensyukuri karunia Allah saat berkecukupan. Allah buat lemah tubuh orang yang sudah lanjut usia, agar manusia mempergunakan masa muda dengan amal shaleh. Semua pesan yang tersirat di balik ciptaan Allah, dengan tenang dan lapang dada ia jalani. Jiwanya menggantung pada pertolongan Allah. Hatinya terpikat dengan keelokan Allah. Hingga semua ibadah, aktivitas, hidup, dan matinya diserahkan kepada Allah. Ia yakin dengan sepenuhnya bahwa dirinya adalah bagian kecil dari milik Allah. Karena itu, ia jadikan hidup yang cuma sekali ini hanya untuk Allah.

Dengan pandangan hidup dan keyakinan seperti ini, membuat orang hidup lebih tenang, lebih bersahaja, lebih berarti, lebih berguna, lebih bahagia, dan lebih lurus dalam menjalani hidup. Ia hanya bersandar kepada rahmat dan pertolongan Allah. Sepenuhnya ia hanya berharap kepada Allah. Tidak sedikit pun ia gantungkan hidupnya pada selain Allah. Ia akan menjadi manusia yang sangat di cintai Allah. Allah akan selalu bersama orang yang menyerahkan hidup kepada-Nya. Jika 24 jam ia sadar bahwa hidupnya adalah milik Allah, maka 24 jam pula ia berada dalam ridha Allah. Jika 24 jam ia gantungkan seluruh urusanya pada pertolongan Allah, maka 24 jam pertolongan Allah akan menyertainya. Sadari hidup milik Allah, kita akan tahu apa yang seharusnya kita lakukan di dunia ini. Keberkahan, karunia, kebahagiaan, ketentraman, dan keselamatan di dunia dan di akhirat selalu berpihak pada orang yang menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Ibadah, shalat, hidup, dan mati kita adalah milik Allah.

About these ads

One response »

  1. Arnida says:

    Rangkaian kata2 yg pnh makna mggugah keimanan smakin yakin akan kuasaNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s