B. Menyelipkan Asma-asma Allah Di celah-celah Kehidupan

Maha Suci Allah SWT dari semua kekurangan. Dia hiasi dan Dia lengkapi setiap makhluk-Nya dengan sifat dan nama yang indah. Masing-masing menpunyai arti dan maksud tersendiri. Salah satu faidah dari pemberian nama adalah untuk mengetahui sejatinya yang punya nama itu. Nama menggambarkan identitas pemilik nama tersebut. Demikian Allah SWT menyebutkan nama-nama-Nya yang Indah, bertujuan agar hamba-Nya lebih dekat dan mengenal-Nya. Bagi hamba yang ingin ma’rifat kepada Allah, maka dia harus melalui jalan mengenal nama-nama-Nya. Tanpa mengenal nama-nama-Nya, rasanya sulit baginya lebih dekat berkenalan dengan-Nya. Dengan menyelami sifat-sifat dan nama-nama-Nya, hamba dapat berwisata kehadirat-Nya. Tersingkap rahasia-rahasia kehidupan yang nyata dan yang bathin. Pemahaman terhadap nama-nama Allah yang tinggi menghantarkan hamba pada derajat yang tinggi di sisi-Nya. Dia pula yang menyuruh hamba-Nya, jika berdo’a agar memanggil nama-nama-Nya. Allah begitu senang, jika nama-nama-Nya menyatu dalam hidup seorang hamba.

 

Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat 110:

قُلِ ادْعُوا اللهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ، أَيَّامًا تَدْعُوْا فَلَهُ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى.

“Katakanlah, serulah Allah atau serulah Al-Rahman.

Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik”.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَلِلَّهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا

“Bagi Allah adalah nama-nama yang baik, maka serulah dengan menyebut nama-nama itu”. (QS. Al-A’raf: 180).

Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (Asmaullah Al-husna) itu ada 99 nama. Sabda Rasulullah SAW : “Allah itu mempunyai 99 nama, Barang siapa menghafalnya, ia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil dan cinta sekali kepada yang ganjil (tidak genap)”. (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits di atas kata “menghafal” berarti dia telah mengingat, menghafal, menjaga, memahami, menyelami, dan melibatkan nama-nama Allah di dalam setiap perbuatannya. Nama-mana tersebut selalu teringat dalam pikiran. Terpelihara di dalam pekerjaan. Menyelam kedasar makna dari setiap nama-nama Allah SWT. Kemudian dia menimbang, apakah amalnya berpijak dan bersandar pada nama-nama tersebut. Dia selipkan nama-nama Allah dalam cela-celah kehidupannya. Asma-asma Allah yang Agung mendominasi ruang di dalam hati. Semua yang terlintas di dalam hati adalah keelokan Allah. Mereka hidup bermula dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Allah meninggikan mereka karena mereka meninggikan Allah SWT. Mereka dimulyakan karena memulyakan Allah. Jiwa mereka telah sibuk mengingat dan mengagungkan Allah SWT, sehingga mereka menjadi tidak tenang kecuali bila dekat dengan Allah. Hati mereka hanya bersandar hanya kepada Allah. Keagungan Allah benar-benar telah merajai hati mereka.

 

Ada seorang wanita separuh baya melakukan rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga dengan terampilnya. Keletihan tampak di raut mukanya, tapi tak membuatnya surut menuntaskan pekerjaannya. Saat masak diselahi pekerjaannya dengan menyebut asma-asma Allah, bahkan al-Qur’an menyertai pekerjaannya. Dia baktikan melayani suaminya dengan tulus dan penuh pengabdian kepada Allah SWT. Dia cuci baju suami dan anak-anaknya, agar mereka dapat beribadah kepada Allah dengan pakaian suci dan bersih. Allah sangat menyukai kebersihan dan Dia tak akan menerima ibadah kecuali yang baik saja. Dia terima uang belanja dari suaminya dengan mengucap syukur –alhamdulillah– kepada Allah, walaupun sedikit bagi baginya. Dia melihat yang memberi ini bukan suaminya tetapi Allah yang memberinya melalui tangan suaminya. Kerap kali tasbih mendominasi ucapannya. Dia bimbing putra-putrinya untuk mencintai al-Qur’an dan membiasakan berzikir. Dia murka jika anaknya meninggalkan shalat dan tak mau melantunkan al-Qur’an. Seorang ibu yang telah menangkap pelita terang di balik tilawah dan zikir. Saat musibah datang dia tersenyum seraya memuji Allah : “Maha suci Engkau yang telah menurunkan hikmah di balik musibah ini, Engkau rindu mendengar isap tangis pengharapan kami, Engkau tegur kami saat kami lupa, sepertinya Engkau tak ingin kami melupakan diri-MU”. Baik sangka (husnudhan) kepada Allah telah menyatu dalam dirinya, hingga apapun yang terlihat, tampak kemahabesaran dan keagungan Allah SWT. Tasbih, tahmid, istighfar, do’a, al-qur’an, shalat sunnah, sedekah, syukur dan qonaah terselip dalam celah-celah kehidupannya. Begitu damai dan tenang kehidupannya. Dialah sosok wanita yang mampu menyelipkan asma-asma Allah di celah-celah kehidupan yang dia jalani. (Juli 2007).

Tiada yang tampak oleh mata, kecuali tersingkap keagungan Allah. Dia lihat hamparan hijau dedaunan , nyata bahwa Allah Zat Penyiram kesejukan (al-Waduud). Dia lihat tingginya langit yang bertabur bintang, jelas terlihat betapa Maha Tingginya Allah (al-‘Ali). Di tengah-tengah kerumunan orang, tiada satupun wajah mereka terlihat sama bukti betapa hebatnya Allah menciptakan bermacam-macam rupa (al-Mushowwir). Berapa banyak spesies yang hidup di dasar laut dan di atas bumi Allah cukupi dan Dia sediakan keperluannya. Tak satupun darinya diterlantarkan. Sungguh Dia-lah Allah Zat yang Maha Pemberi (al-Razzaq). Dialah Allah penguasa segala Kerajaan dan Kebesaran. Keagungan dan kemuliaan adalah milik-Nya. Maha kuasa Dia mengendalikan semuanya. Dia Pencipta, Dia pula Penghancur. Dia Pemberi kemulyaan, Dia pula yang menghinakan. Dia yang meninggikan derajat hamba-Nya, Dia pula yang merendahkannya. Dia pemberi kasih sayang, Dia pula penimpa murka. Allah yang menghidupkan, Allah pula yang mematikan. Semua berada dalam genggaman-Nya. Teringat ini, sungguh kecil dan tak berarti apa-apa manusia di sisi-Nya. Akankah manusia masih berlaku sombong? Masihkah manusia mendurhakai-Nya?.

Setiap manusia ingin selamat. Selamat dari bencana, selamat dari kecelakaan, selamat kekurangan, kesedihan dan rasa takut. Ia ingin selamat hidup di dunia, selamat di alam kubur, dan selamat di akhirat. Orang yang hidupnya akrab dengan asma-asma Allah, hal ini tidak membuatnya risau atau takut, karena dia telah dekat dan terus mendekati Sang Pemberi keselamatan yaitu Allah (al-Salam). Dia serahkan jiwa raganya kepada-Nya. Tiap kali akan beraktivitas dia titipkan jiwa raganya –dengan megucap basmalah– kepada Allah SWT serta dia akhiri pekerjaannya dengan terus memuji-Nya. Saat keberuntungan berpihak kepadanya hati tergerak dan terjaga bahwa ini merupakan titipan Allah, kemudian segera disalurkan pada ketaatan untuk meraih keridhaan-Nya. Saat kemalangan bertubi-tubi menerpanya, diri lega menerimanya. Langkah-langkanya mengiringi kebajikan. Asma-asma Allah memompa detak jantungnya. Zikir, tilawah, dan amar ma’ruf nahi mungkar menjadi pita suaranya. Hela nafasnya menunjukkan keikhlasan menerima keputusan-Nya. Dia ikuti jalan dan alur kehidupan ini dengan berpegang pada petunjuk-Nya. Dia gantungkan dirinya kepada Allah dari segala yang bakal dia alami. Senang dan ridha dengan keputusan yang Allah tetapkan. Malu jika tidak memenuhi panggilan-Nya. Rindu disertai pengharapan dapat bertemu Allah tersenyum kepada-Nya.

Manusia tempat salah dan lupa. Tiada manusia pun yang tak pernah bersalah. Salah dan khilaf merupakan bagian dari hidup manusia. Orang yang baik bukan orang yang tak punya salah, tetapi orang yang terbaik adalah orang yang bersalah kemudian dia bertaubat dan tidak mau mengulanginya lagi. Sebelum beramal dia berdo’a agar terhindar dari kesalahan berucap dan bersikap. Dia mohon kepada Allah –dalam beribadah dan beramal baik- agar diberi ketulusan hati, dihindarkan dari riya’, ujub, dan sum’ah. Ungkapan memuji Allah mengalir deras dari dua bibirnya seusai tuntas beribadah dan beramal baik. Tidak ada kemampuan bagi seorang sedikitpun dalam beribadah dan tergerak kecuali ada keterlibatan diri-Nya. Dia sadar bahwa waktu, tenaga, pikiran, ucapan, usia, hati, dan semua potensi yang dimiliknya adalah ujian yang berat. Semuanya memiliki potensi untuk menjadi ladang ibadah dan berpotensi menjadi jurang mala petaka. Keduanya tergantung pada motivasi, proses implementasi dan tujuan yang akan diraihnya. Kedekatan dan keakrapan manusia dengan Allah mampu menentukan pilihan terbaiknya dalam mempergunakan semua yang ada untuk menggapai keridhaan Allah.

Seorang dokter ahli anatomi tubuh manusia tersungkur jatuh melihat betapa Maha Besarnya Allah dalam menciptakan tubuh manusia ini. Dia pelajari letak dan desain setiap orang manusia, zat apa saja yang ada padanya, bagaimana merawatnya, penyakit apa saja yang memungkinkan menyerangnya, kemudian bagaimana mengobatinya, dan zat apa saja yang dapat dikonsumsi oleh organ tubuh agar berfungsi dengan baik? Ternyata tersingkap alangkah habatnya Allah dalam menciptakan tubuh manusia dengan desain yang sempurna ini. Subhanallah Maha Suci Allah. Tiada pencipta selain diri-Nya ( al-Khaliq).

Seorang pemuda miskin dia curahkan hidupnya untuk mendapatkan cinta Ilahi terus berdo’a: “Ya Allah hanya Engkau tujuanku, ridha-Mu yang kucari, berikan aku sedikit akan cinta-Mu dan perkenankan aku mengenal-Mu”. Doa ini terus berkumandang dan mengalir dari mulutnya seperti sumber yang tak pernah mengering. Semua yang ada, terasa tiada guna tanpa keridhaan-Nya. Semua sia-sia dia kumpulkan, jika Allah engan bersama-Nya. Di atas kendaraan merupakan waktu paling mesra bercengkrama dengan Allah. Dia selipkan sentuhan cahaya Ilahi diselah-selah butiran kata-katanya. Dia ajak rumput bergoyang, ikan berenang, burung terbang, dan semua yang ada untuk mensucikan dan memuji Allah. Dia benci lantaran Allah. Dia suka lantaran Allah. Tubuh lemah tak membuatnya surut memperbanyak ibadah. Letih dan payah dilihat orang, asyik yang dia rasakan bisa dekat dengan-Nya. Kemewah tak membuatnya silau. Kemulyaan tak membuatnya terpikat. Dia tak memiliki hasrat punya kedudukan tinggi. Dirinya telah dijual pada Allah. Dia senang dengan tawaran dan harga yang Allah berikan. Seakan-akan dia berkata: “Aku mau apa saja, asal Allah yang memberi”. Benar-benar asma-asma Allah melekat erat dalam jiwanya. Dia berharap, agar selalu dapat melalui tahapan-tahapan kebajikan hingga puncaknya dan itu benar-benar dinilai oleh Allah SWT. Tak sedikitpun dari amalnya yang luput dari pengawasan-Nya. Huru-hara terjadi akibat keserakahan yang tak terbendung, justru dia tenang menikmati apa yang ada. Ramai orang menumpuk kekayaan, dia justru malu meminta kepada-Nya. Sudah terlalu banyak yang diberikan Allah kepadanya. Satu-persatu dihitung nikmat Allah, ternyata banyak sekali nikmat Allah yang belum disyukuri. Bertekuk lutut dia bersimpuh mengharap ampunan Allah atas kelakuaannya ini, justru Allah berikan sesuatu yang dia tidak minta. Semakin tunduk dan tawadhu’ dia di sisi Allah SWT. Istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan shalawat terus membasahi dua bibirnya. Kebahagiaan dunia bukan perioritas utama. Surga dan neraka bukan menjadi tendensi dari semua ibadahnya, namun senyum dan ridha Allah semata yang menjadi harapannya. Begitulah sisi kehidupan seseorang yang telah menyatu dengan asma-asma Allah dalam kehidupannya.

Coba lihat sisi kehidupan sekarang ini! Jika kita pandang manusia sekarang, nampak kelihatan kita sedang memandang gurun pasir luas yang gersang, kering, dan tak berair. Mereka haus akan turunnya hujun. Tiap kali disiram dengan seember air, begitu cepat air itu mengering. Masing-masing membutuhkan naungan dari terik matahari yang membakar. Dia berlari menuju pohon rimbun, dia tak kuat hawa panasnya. Dia pilih orang berharta, tak kuat dengan problem yang dihadapinya. Hati mereka banyak yang layu, kering, dan tak berair. Mereka cari kepuasan batin dengan melampiaskan nafsunya, malah dia tertimbun gundukan masalah. Inginnya hatinya tumbuh subur, dia siram dengan air aki. Semakin dia menggeliat dan meronta kesakitan. Itulah gambaran manusia yang jauh dari asma-asma Allah. Semoga kita semua dihindarkan dari semua ini. Hanya Allah yang mengetahui keadaan hamba-Nya. Selipkan asma-asma Allah dalam celah hidup kita dan libatkan terus Allah dalam setiap amal kita, insya Allah Dia berkenan menunjuki kita ke jalan yang benar. Amin. Allahu a’lam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s