“Ikhlas ruh amal.

 

Dengan ikhlas amal dapat diterima dan tanpanya amal akan dicampakan .”

“Barang siapa yang merasa diri sudah ikhlas beramal,

maka sesungguhnya dia masih membutuhkan

keikhlasan yang sebenarnya.”

Ikhlas merupakan salah satu dari amalan hati. Ikhlas berada dalam barisan pemula dari amal-amal hati. Sebab, diterimanya berbagai amal tidak bisa menjadi sempurna kecuali dengannya. Ikhlas adalah menghendaki keridhaan Allah dengan suatu amal, membersihkan dari maksud dan tujuan selain ridha Allah. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal kecuai karena Allah dan demi kebahagiaan akhirat. Niat beramalnya tidak mendua maksud yang tampak atau yang tersembunyi. Bersih dari tendensi materi atau non materi. Seperti bersih dari menghendaki kekayaan, kepuasan syahwat, ketenaran, pujian, mengambil hati orang banyak, mencari sanjungan mereka, tidak ingin dicela, kesombongan yang terselubung, meladeni rasa denganki yang tak tampak, atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji. Intinya dia beramal hanya semata-mat karena keridhaan Allah dan bukan karena siapa pun atau karena apa pun.

 

Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat dan amal karena Allah semata. Maksudnya, memurnikan dorongan kehendak untuk mewujudkan sutu tujuan yang dituntutnya. Ikhlas dengan pengertian seperti ini merupakan salah satu dari buah tauhid yang murni dan sempurna kepada Allah. Hanya kepada Allah berubadah dan hanya kepada-Nya semata memohon pertolongan. Allah berfirman dalah surat al-Fatiha ayat 5, yaitu: “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah:5). Ayat ini berulang kali diucapkan setiap menunaikan shalat lima waktu atau shalat-shalat sunah. Dengan memurnikan niat dan ikhlas dalam beramal ini, mukmin benar-benar akan menjadi hamba Allah, bukan hamba nafsunya, bukan hamba selain Allah, dan pula bukan hamba dunia. Dengan ikhlas seperti ini dia dapat membebaskan diri dari segala bentuk perbudakan dan melepaskan diri dari berbagai penyembahan. Dia terhindar –dengan niat karena Allah dan ikhlas menjalani amal- perbudakan dinar dan dirham, perbudakan keangkuhan, pebudakan wanita, perbudakan kedudukan dan tahta, birahi, dan semua hasrat ingin dipuji dan disanjung. Amal yang di bawah perbudakan tidak akan menghasilkan buah ketentraman. Sia-sia dan tidak ada guna baginya di dunia dan di akhirat kelak. Hidup dikendalikan oleh suatu perbudakan sungguh menyakitkan hati dan menyengsarakan diri kelak saat menghadap Allah.

Dengan cahaya yang nyata dan cahaya al-qur’an, orang kan mengetahui bahwa kebahagiaan tak bakan menghampiri diri kecuali dengan ilmu dan beribadah. Semua orang akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang gemar merealisasikan ilmunya. Orang yang aktif beramal akan binasa kecuali orang yang ikhlas ketika beramal. Orang yang ikhlas belum sempurna kecuali dia mampu menjaga keikhlasaanya hingga akhir dari amalnya. Ilmu laksana benih, amal laksana tanaman, dan airnya adalah ikhlas. Allah tak suka amal yang menduakan Allah. Amal yang mendua tak akan diteriama dan hati yang mendua juga tidak diterima. Amal yang tidak disertai keikhlasan adalah gambar mati, raga tanpa jiwa. Allah hanya menginginkan hakikat amal, buka rupa dan bentuknya. Maka dari itu, Allah akan menolak amal yang pelakunya tertipu oleh amalnya. Dalam hadits shahih riwayat Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَصُوَرِكُمْ، وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ. وَ أَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى قَلْبِهِ. وَقَالَ : التَّقْوَى هٰهُنَا. وَأَشَارَ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. روا مسلم.

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada jasad dan rupa-rupa, tetapi Dia akan melihat kepada hati kalian.” Beliau memberi isyarat kea rah hati dengan jari-jari tangan, danberkata: “Taqwa itu ltaknya di sini.” Dan, beliau memberi

isyarat ke arah dadanya tiga kali.”

(HR. Muslim)

Ikhlas melurusjkan arah tujuan kepada Allah. Ikhlas diperlukan untuk menata kehidupan. Tanpa ikhlas amalnya, waktunya, tenaganya, jerih dan usahanya tidak akan menghasilkan buahnya. Inginnya kebahagiaan dan keselamatan dunia dan di akhirat, justru kemalangan dan penderitaan yang menghampirinya. Pengorbanan, sedekah, ibadah, amal kebaikan tidak akan sampai kepada Allah, kecuali yang sampai kepada Allah adalah ketaqwaannya yang bersumber dari dasar hati, yaitu ikhlas. Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللهُ لُحُوْمُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ. الحج:37

“Daging-daging onta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”

(QS. Al-Haj:37)

Ikhlas dalam beramal dapat dideteksi dengan beberapa hal, yaitu dia takut ketenaran, beramal secara diam-diam jauh dari sorotan, bersih dan jernih dari tujuan kepada selain Allah, tidak menuntut pujian dan tidak terkecoh oleh pujian, tidak kikir pujian terhadap orang yang layak dipuji, semua amal didasarkan pada keridhaan Allah, menghindari ujub dan takabbur, dia tepis riya’ dan sum’ah, selalu menata niat sebelum beramal dan tiada harapan selain rahmat Allah. Ikhlas akan memancarkan ketenangan batin, keshusyu’an menyertai semua ibadahnya, semakin kokoh kekuatan ruhaninya, istiqomah dan berkesinambungan dalam beramal merupakan buah ikhlas. Keikhlasan dapat merubah yang mubah dan tradisi menjadi ibadah. Ikhlas dapat mengundang hidayah dan rahmat Allah. Ikhlas dapat menurunkan pertolongan dan ma’unah Allah. Ikhlas adalah ruhnya amal. Amal tanpa ikhlas laksana kehidupan tanpa mentari.

Lalu bagaimana kita dapat menjaga dan membangun diri agar dapat istiqomah ikhlas beramal? Dia antaranya adalah menjaga hati dari noda-noda dosa, berupaya untuk mengetahui lebih dekat tentang hakikat ikhlas, berteman dengan-orang-orang yang ikhlas, gemar membaca sirah (biografi) orang-orang yang mukhlis, mujahadah melawan nafsu, berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah agar hati tetap terjaga keikhlasannya.

Ketahuilah! Bahwa orang-orang yang terjaga kikhlasannya adalah mereka orang selalu merasa bersama Allah dalam setiap gerak dan diam mereka. Allah selalu ridha dan merahmati orang-orang yang hatinya ikhlas beramal karena-Nya semata. Tanpa ikhlas dalam hati mustahil seseorang dapat bersama Allah. Allah perintahkan kepada orang-orang muslim agar ikhlas dalam beragama. Allah berfirman: “Padahal mereka tidaklah diperintahakan menyemba Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5). Karena itu, siapa yang menghendaki dirinya selalu bersama Allah, maka jaga dan pelihara ikhlas bersemayam di dasar hati. Jadikan ikhlas fondasi yang kokoh dalam beramal dan beraktivitas. Insyaallah, Dia akan berkenan meridhai dan merahmati langkah-langkah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s