C. Di Bawah Pengawasan Allah SWT

يَعْلَمُ خَآئِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدَوْرُ. (المؤمنون: 19)

“Tuhan mengetahui kecurangan mata dan apa yang disembunyikan dada”.

(QS. Al-Mu’min: 19)

إِنَّ اللهَ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْئٌ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ.( أل عمران:5)

“Sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi bagi Allah

sesuatu yang di langit dan di bumi”.

(QS. Ali Imran: 5)

وَهُوَ اللهُ فِى السَّمَاوَاتِ وفِى اْلأَرْضِ، يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْمَلُ مَا تَكْسِبُوْنَ. (الأنعام: 3).

“Dan Dia-lah Allah (yang disembah) baik di langit maupun di bumi,

Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan

dan mengetahui apa yang yang kamu usahakan”.

(QS. Al-An’am: 3).

Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan mengisinya dengan berbagai macam makhluk. Diciptakan semuanya, untuk menyertai manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah dan kholifah-Nya di muka bumi ini. Diturunkan Al-qur’an dan sunnah Nabi-Nya sebagai pedoman hidupnya. Bahkan Allah utus para rasul-Nya sebagai teladan hidupnya. Siapa yang berpedoman dengan keduanya dan mensuritauladani para rasul-Nya akan memperoleh kemenangan dan kebahagiaan hakiki. Allah menggenggam dan mengatur semua ciptaan-Nya. Tidak ada satupun yang terlepas dari ketentuan-Nya. Semua perkara bergulir menurut qadla dan taqdir-Nya.

Sejatinya Allah Maha melihat dan Maha Mengawasi semua gerakan kehidupan makhluk-Nya. 30 hari dalam sebulan, 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari, 60 menit dalam satu jam, 60 detik dalam semenit Allah tidak pernah lengah mengawasi kita walaupun dalam sekejap. Sebagai orang yang beriman kepada-Nya, jelas dan pasti kita harus beriman pula kepada pengawasan dan pengelihatan Allah ini. Tidak ada litasan dari makhluk-Nya yang paling halus sekalipun yang luput dari penglihatan dan pengawasan Allah. Penglihatan dan pengawasan Allah tidak terbatas pada ruang dan waktu. Ditambah lagi Allah Maha Membalas terhadap amal kita di samping tentunya Allah Maha Pengampun. Keyakinan ini menjadikan kita dalam menyusuri hidup merasa dekat bersama-Nya. Tentram, malu, rindu, cinta, harap, dan takut menyatu dalam perasaan betapa bahagianya ketika kita dekat dengan-Nya.

Sesungguhnya Allah begitu teramat menyayangi hamba-hamba-Nya dengan pandangan kasih sayang. Akan terasa sangat malu bagi hamba yang merasakan akan pengawasan Allah ini. Dia malu melangkahkan kedua kakinya menuju kemaksiatan. Pada saat dia menikmati kelezatan makanan, dia malu karena merasa diawasi oleh sang Pemberi nikmat. Aliran darah dan peluhnya tidak bercucuran kecuali dipersembahkan untuk memperoleh kasih sayang dan ridla-Nya. Dia tegakkan shalat terasa berdialog dengan-Nya. Dia segerakan harta yang singgah padanya untuk disedekahkan kepada saudaranya. Dijadikan hidupnya berasal dari-Nya dan untuk-Nya. Digantungkan hidupnya mengais kasih sayang-Nya. Setiap kedipan mata dan gerakan dua bibirnya selalu diawasi oleh-Nya. Dia membenci dan mencintai sesuatu hanya karena Allah. Gejolak hatinya guncang dasyat saat melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Dia segerakan beramal shaleh tanpa menunda-nunda lagi. Di mana dia bisa beramal shaleh, saat itu juga dia lakukan. Kapan pun dia sempat membuat Tuhannya tersenyum, segera dia melakukannya. Rasa syukur terus menyelimuti setiap gerakan kema’rifatan kepada-Nya. Betapa indah dan sahdunya hidup dalam pengawasan dan penglihatan-Nya. Kesedihan dan cobaan hidup akan dilalui dengan rasa nikmat bersama kehadiran Allah di hatinya. Kebahagiaan dan limpahan nikmat tidak mengusik perhatian dan kedekatan dia kepada Allah SWT. Ini semua terjadi atas rahmat dan karunia-Nya.

Lantaran nafsu dan lemahnya iman seseorang sajalah seolah-olah dia berjalan mengikuti alur kehidupan tanpa merasa adanya pengawasan dan penglihatan Allah. Dia dengan mudah meninggalkan shalat, mengakhirkannya, atau mengerjakannya dengan kemalasan. Dia beribadah tetapi terasa berat. Dia menikmati rizki dengan lahapnya, seakan-akan Allah tidak mengawasinya. Dia raup harta haram dengan serakahnya, seakan-akan Allah tidak mengetahui dan tidak meminta balas. Dia sakiti saudaranya dengan kedua bibirnya dengan mudah, seakan-akan Allah tidak mengawasi. Dia cabik-cabik kehormatan orang dengan begitu mudahnya, seolah-olah Allah tidak mengetahuinya. Betapa angkuhnya dia berjalan menelusuri bumi seakan-akan Allah tidak menyaksikannya. Dia jadikan dirinya mesin pembuat maksiat. Dia lupa kalau dirinya akan bertemu Allah dalam keadaan memurkainya. Dia mengetahui Allah, tetapi seperti dia tidak mengetahui. Dia mengenal Allah, tetapi seperti dia tidak mengenal-Nya. Tahu sekedar tahu, kenal sekedar kenal. Tidak menyatu, tidak menghunjam ke dasar hati, tidak membekas, tidak berpengaruh dalam kehidupannya, tidak menggugah dan mengubah sikap dan prilakunya. Inilah bukti bagi hati yang tertutup oleh lemak dosa dan jiwa yang diperbudak nafsunya.

Ada kisah yang patut kita renungkan…

Dalam suatu perjalanan, Ibnu Umar ra. Melihat seorang anak yang sedang menggembalakan kambing. Ibnu Umar ra. Memohon kepadanya:

  • “Juallah seekor kambing ini!”

  • Anak itu menjawab: “Kambing itu bukan milikku”.

  • Ibnu Umar: “Katakan saja kepada pemiliknya, bahwa serigala telah menerkan seekor kambingnya”.

  • Anak itu menjawab: “Di mana Allah?”.

Dialog singkat itu sangat berkesan bagi jiwa Abdullah bin Umar, sehingga membuatnya terharu dan senantiasa teringat akan anak itu. Setelah lewat beberapa lama, Ibnu Umar pun datang menemui pemilik kambing tadi dan membeli anak yang masih dalam perbudakan itu. Kemudian anak itu dimerdekakan oleh Ibnu Umar ra. (pilar-pilar tasawuf: h.291).

Kisah sederhana ini memberi kita inspirasi untuk menemukan sejatinya hidup. Hidup merupakan ladang luas yang jika ditanami dengan amal kebajikan, akan membawa berkah bagi pelakunya. Kemantapan akan pengawasan dan penglihatan Allah terhadap semua yang dilakukan, menjadikan seorang hamba benar-benar mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk beramal shaleh. Dia akan hati-hati dalam melangkah. Tidak sembrono dan mengumbar nafsu syaithoniyahnya. Dia akan gantungkan hidupnya kepada kehendak dan kuasa Ilahi, sehingga jika dia ditimpa musibah, dia tidak terlalu bersedih dan jika dianugrahi nikmat, dia tidak berlebih-lebihan sampai kelewat batas. Demikian pula dengan rizki. Tanpa pengawasan Allah dalam mencari rizki, berapa banyak orang menggunakan jalan curang, menipu, berbohong, mengurangi timbangan, janji palsu kerap kali dilakukan. Padahal rizki itu sudah ditetapkan bagi masing-masing hamba-Nya. Masing-masing orang mempunyai takaran rizki yang berbeda-beda. Manusia tinggal menjemput rizki itu dengan sedikit ikhtiyar. Rizki itu mudah didapat. Tetapi mentashorrufkan rizki dengan tepat itu yang sulit. Jika ingin mudah memperoleh rizki, maka carilah dan dekati sang Pemberi rizki, yaitu Allah. Seorang yang sudah dekat dengan Allah, belum memintapun atau masih dalam lintasan hati, Allah sudah memberi dan menyediakan untuknya. Allah Maha Melihat lintasan hati seorang hamba. Rizki yang diperoleh dengan melupakan Allah, atau dengan tidak melibatkan-Nya dalam mencarinya, adalah sejatinya bukan rizki beneran, melainkan seonggokan bibit malapetaka dan penderitaan.

Seorang pegawai kantor yang bekerja tanpa melibatkan Allah, akan terlihat rajin manakala ada pengawas yang mengawasi. Namun dikala pengawas berlalu, dia bekerja dengan malas-malasan. Sikap menjilat, mencari muka dan asal bapak senang menjadi pemandangan sehati-hari. Sungguh buruk mental pegawai seperti ini. Dengan enteng inventaris kantor diboyong kerumahnya satu-persatu untuk dijadikan inventaris pribadinya. Anak dan istrinya menikmati barang-barang jarahan. Hal ini yang menyebabkan suhu rumah tangganya memanas. Pertikaian dan keretakan rumah tangga selalu menghiasi perjalanan hidupnya. Sedangkan, awas terhadap pengawasan Allah, sirkulasi kerja kantor dijamin aman terkendali. Tak ditemukan kecurang dan kebohongan. Dia akan bekerja seperti prosedur yang berlaku dikantornya. Dia akan berusaha berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja. Dia kerahkan kemampuan dan prestasi terbaiknya demi tercapai tujuan bersama. Pantang menyerah, gigih, tekun, rajin, ulet akan menyertai pekerjaannya. Di mana dia berpijak, disitu muncul kebaikan. Siapa yang mengenalnya dia akan merasa nyaman dan betah bersamanya. Karena semua dasar prilakunya selalu diawasi dan Dilihat Allah SWT. dan tujuan akhir dari pekerjaannya adalah keridloan Allah.

Bagi Allah SWT tidak ada satu perbuatan yang seberat atom sekalipun yang luput dari pengawasan-Nya. Semua terlihat dengan jelas dan terdengar dengan nyaring. Luqman pernah menasehati putranya, dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 16 Allah berfirman: “Hai anakku, ssungguhnya jika ada amal perbuatan seberat zarrah yang tersembunyi di dalam batu hitam atau di langit atau di bumi, niscaya dibalas Allah juga. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. ( QS. Luqman: 16 ).

Kita sering mendengar sebuah kisah seorang syeikh yang alim. Syeikh ini mempunyai seorang murid yang masih muda belia. Pemuda ini sangat dikasihi dan dimulyakan oleh gurunya. Saking begitu sayangnya gurunya, sampai menjadi tanda tanya murid-muridnya yang lain. Mendengar desas-desus ini, akhirnya syeikh ini memerintahkan para santrinya untuk membeli ayam dan beberapa pisau. Kemudian syeikh itu berpesan kepada para santrinya: “Hendaklah kalian menyembelih ayam kalian ditempat yang tidak kelhatan oleh siapapun”.

Kemudian berangkatlah para murid ini membawa ayam dan pisaunya. Masing-masing mencari tempat tersembunyi. Sebentar kemudian kembalilah semua muridnya membawa ayam yang sudah disembelih, kecuali pemuda tadi. Dia membawa ayamnya masih hidup. Melihat yang demikian ini, syeikh bertanya kepadanya: “mengapa kamu tidak menyembelih ayammu seperti teman-temanmu yang lain?”. Pemuda itu menjawab: “Aku tidak menemukan tempat yang tidak kelihatan oleh siapapun, karena Allah SWT selalu melihat diriku di mana pun aku berada”. Akhirnya semua murid mengetahui mengapa gurunya sangat menyayangi pemuda itu. Maka pantaslah dia disayangi oleh gurunya, karena kedekatan dia dengan Allah SWT. Kisah ini menunjukkan kepada kita betapa Maha Melihat Allah pada setiap kelakuan kita. Hal yang terkecil sekalipun tidak lepas dari pengawasan-Nya. Tidak ada yang tersembunyi.

Semoga qolbu kita senantiasa dinaungi oleh rahmat Allah dan disinari pancaran cahaya keagungan-Nya. Jika qolbu semakin bersih, pikiran ikut jernih, bekerja semakin gigih, cita-cita mudah digapai, rahmat Allah tercurah, rizki melimpah, hidup menjadi sejahterah, dan kedamaian dapat diraih. Namun, jika qolbu sakit, pikiran menjadi sempit, hidup terasa terhimpit, segalanya menjadi rumit, dan kedamaian sulit untuk diraih. Hati yang lapang, pikiran tenang, jiwa yang senang akan dimikili orang yang menjalani hidup selalu melibatkan Allah SWT. Hanya kepada Allah jualah kita berpasrah diri dan tawakkal sesudah berikhtiyar. Mudah-mdahan semua kekhilafan kita mendapat ampunan dari-Nya. Rahmat dan keridlaan Allah memihak kepada kita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s