E. Allah Tak Ingin Diduakan

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ، وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا مُبِيْنًا.

“Sejatinya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,

dan Dia mengampuni segala dosa selain dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah ,

maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.

(QS. An Nisa’: 48).

Allah Maha mengerti dan Maha Bijak. Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Sebab itu, roda kehidupan berjalan dengan baik. Makhluk hidup beranak-pinak. Manusia berkembang biak. Tak bisa dibayangkan jika kehidupan tanpa pasangan. Nabi Adam walau bergelimang dengan kenikmatan yang besar, terasa kurang lengkap tanpa Ibunda Hawa. Tanpa pasangan tak ada kehidupan. Renungkan! Andai kata Dia ciptakan mata cuma satu, tangan cuma satu, kaki cuma satu, bagaimana jadinya? Tentu tak seindah dan sesempurna sekarang. Itulah salah satu tanda kebesaran Allah Rabbul Jalil.

Masing-masing jenis dari setiap pasangan akan condong kepada pasangannya. Saling ketergantungan dan saling membutuhkan. Ayam jantan untuk mendapatkan betinanya, ia akan mati-matian menghadapi pejantan lainnya. Seekor burung untuk mengikat lawan jenisnya, ia tunjukkan gaya dan suara khasnya. Terutama manusia yang kehidupannya tak pernah lepas dengan cinta. Fitrah dan kodrat manusia yang diingini adalah mencinta dan dicintai. Pasangan suami istri menjadi harmonis dikala keduanya menjaga kesetiaan dan saling pengertian. Sekali saja salah satu mendua cinta, api cemburu berkobar menyulut perpecahan. Istri sangat pencemburu. Dia tidak ingin dimadu oleh suaminya. Tak diingini cinta sang suami terbelah dan terbagi dua. Itu karena, betapa besarnya cinta si istri kepada suaminya.

 

Demikian halnya dengan Allah Yang Esa. Allah Sangat Pencemburu. Dia tak ingin dimadu. Dia tak ingin diduakan. Amalan apa saja yang diduakan akan ditolak-Nya. Dia benci orang yang mengharap akan cinta-Nya, tapi dia duakan Allah dengan yang lainnya. Dia harap pertolongan Allah, tapi dia gantungkan dirinya kepada para normal dan dukun sesat. Dia harap keberkahan Allah, dia yakini azimat pembawa keberuntungan dan penangkal kesialan. Dia ingini rahmat Allah, tapi dia usik keramahan-Nya. Dia panjatkan doa kepada-Nya, namun dia taruh sesaji di makam-makam keramat dan dilereng gunung. Dia harap ketentraman dan kesuksesan hidup, tapi tak pernah melibatkan Allah dalam kehidupannya. Padahal Allah itu dekat, bahkan sangat dekat. Tetapi seringkali dia tak merasa kalau Allah itu dekat, bahkan hingga melupakan-Nya. Apakah ini tidak menduakan Allah? Apakah ini tidak memadu Allah?

 

Kita mengetahui bahwa alam ini ada yang mencipta, ada yang punya, ada yang mengendalikan, Dialah Allah Rabbul ‘alamin. Digenggam-Nya kehidupan ini. Dia atur alam ini sedemikian tertatanya, hingga tak dijumpai satu saja dari hamba-Nya yang dibiarkan terlunta-lunta. Jika kita jumpai itu, karena dia seringnya mendurhakai Allah Al-Rahim. Tak berjalan kehidupan ini kecuali atas izin-Nya. Semua bergulir menurut ketentuan-Nya. Dia cukupi tiap kebutuhan makhluk-Nya. Tapi sedikit hamba yang merasa dicukupi dan merasa diperhatikan oleh-Nya. Sejatinya kita ini dimanjakan oleh Allah SWT. Apa saja diberikan kepada kita, bahkan sesuatu yang belum kita minta pun Dia berikan. Betapa Maha Rahman dan Rahimnya Allah SWT kepada hamba-Nya. Allah penggenggam kerajaan langit dan bumi. Dia-lah satu-satunya Tuhan. Tidak ada tuhan selain Diri-Nya. Tak ada bandingan atas keagungan dan kebesaran-Nya. Tak satu pun yang menyerupai-Nya, baik zat atau sifat-sifat-Nya. Dia-lah Allah satu-satunya penolong hamba. Allah SWT berfirman:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَمَا لَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَلاَ نَصِيْرٌ.

Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”. (QS. Al-Baqarah:107).

Sungguh murka Allah jika disekutukan. Tak akan diampuni orang yang menyekutukan-Nya. Dia palingkan muka dari orang yang memadu-Nya. Dia enggan menatap orang yang beribadah kepada-Nya dengan khusyu’, tetapi di sakunya tersimpan azimat pembawa kebeuntungan dan penolak kesialan. Dia tak mau mendengar rintihan penyesalan orang yang bertaubat, tetapi dia gantungkan di pintu rumahnya raja dan azimat pemberi keamanan dan pelindung dari bencana. Dalam berdagang, dia taburi ini dan itu, dia letakkan disudut-sudut tokonya azimat ini azimat itu mengikuti arahan dukun sesat, agar dagangannya laris. Memilih jodoh, tak sedikit lelaki muslim mendatangi para normal dan dukun untuk meminta saran, siapa calon istrinya, bagaimana memikatnya, di mana arahnya, dan lain sebagainya. Lebih-lebih dalam kenaikan pangkat, jabatan, karir, usaha, perebutan harta gono gini, bahkan masalah keluarga masih banyak melibatkan selain Allah SWT. Sepertinya mereka kurang yakin akan kekuasaan Allah SWT. Sepertinya mereka kurang yakin Allah dapat menyelesaikan problem mereka. Sungguh tipis dan ringan keyakinan mereka akan Allah SWT. Pantas saja kalau Allah SWT enggan memberi kedamaian dalam diri mereka. Karena, tanpa disadari mereka kerap kali menduakan Allah dengan yang lainnya. Sungguh nista dan tercela kelakuan mereka ini. Na’udzubillah min zalik.

Tak terasa banyak sekali kesyirikan lekat dengan hidup kita. Terkadang kesyirikan terbungkus dengan kata-kata indah. Terkadang kesyirikan larut dalam kelakuan kita. Dan yang sering kesyirikan meluncur dari hati kita. Itu karena kebodohan kita atau nurani kita terbelenggu dan terkalahkan oleh keinginan nafsu yang tak terbendung. Jaman sekarang yang serba modern ini dikira hal-hal yang berbau kesyirikan akan terkikis dengan semakin tingginya tingkat intelektual manusia, ternyata malah semakin banyak yang hidupnya tunduk kepada kesyirikan. Dia gantungkan hidup dan nasibnya di bawa jampi-jampi dukun sesat. Dia penuhi syarat-ini syarat itu agar jabatannya bisa langgeng. Dalam pemilihan untuk menduduki kursi jabatan, tak segan-segan lagi dia libatkan sepuluh bahkan lebih dari orang pintar untuk menjadi tim suksesnya. Coba kita koreksi diri, jangan-jangan orang yang mengaku hamba Allah, ternyata dia masih sering menduakan-Nya. Karena itu, jangan heran jika asma-asma Allah asing bagi dirinya. Hatinya tak bergetar ketika asma Allah berkumandang. Segala ke-Maha Agungan-Nya tak dapat dirasakannya. Padahal ketentraman dan kedamaian itu, terletak pada kepekaan hati menangkap kebesaran dan kehadiran Allah dalam setiap kelakuannya. Bagaimana hati bisa menangkap kehadiran Allah, jika – karena kesyirikan yang tak disadarinya – Allah enggan menemui dan bahkan menatapnya?. Bagaimana dia bisa melibatkan Allah dalam tiap perbuatannya, jika dia masih memadu Allah dengan selainnya? Bagaimana Allah mau mengulurkan rahmat-Nya, bila dia masih terjerat kesyirikan dan tak mau melepaskannya?. Walhasil, Allah enggan bersamanya dan semakin menjauh dari kehidupannya. Hingga hatinya buta melihat keagungan dan kemahabesaran Allah SWT.

Syirik merupakan dosa yang besar. Syirik adalah kezhaliman yang besar. “Sesungguhnya kemusyrikan adalah kedhaliman yang agung”. (QS. Luqman: 13). Maka ada kedhaliman yang lebih besar daripada sikap seorang hamba yang diciptakan Allah, tetapi dia justru menyembah selai Allah? Mana ada kufur nikmat melebihi orang yang dibri nikmat oleh Allah, tetapi justru berterima kasih kepada selain Allah?. Sesungguhnya orang yang menduakan Allah itu selalu tidak percaya kepada diri sendiri, setelah dia tidak percaya kepada Allah sepenuhnya. Jika Allah dimadu, maka dia takan pernah merasakan keindahan surga. Dan dia akan menerima neraka sebagai tempat kembalinya.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ، وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ.

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Maidah: 72)

Allah telah mengajari kita, agar melatih diri hidup hanya bergantung kepada-Nya. Hidup bersih dari kesyirikan. Cukup Allah saja penolong kita. Tempat bergantung hidup kita. Tempat memohon semua keinginan kita. Tunduk dan patuh kepada-Nya. Tidak bergantung dan mengantungkan kepada selain Allah SWT. “…..Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran: 173). Dan dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “…… Cukuplah Allah menjadi Pelindung. Dan cukuplah Allah menjadi Penolong”. (QS. An Nisa’: 45).

Hiduplah bersih dan jernih dari kesyirikan dan menduakan Allah. Lepaskan diri dari kebiasaan bergantung kepada selain Allah. Dalam beribadah tuluskan semata-mata karena Allah. Dalam berikhtiyar mengais ma’isyah (pengidupan) serahkan sepenuhnya kepada Allah. Dalam meraih kebahagiaan hakiki, tambatkan hati selalu kepada Allah. Allah akan bersama orang yang bersih dari syirik. Allah akan menyertai selalu orang yang setia kepada Allah. Allah akan menjadi pelindung dan penolong orang yang hatinya terus terpaut dengan Allah. 24 jam hamba dapat bersama Allah, jika hatinya bersih dari syirik, amalnya suci dari memadu Allah, dan ucapannya terus menyebut keagungan-Nya. Semoga kita dihindari dari sikap yang menduakan Allah. Amin.

Munajat……

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi”. (QS.Ali Imran: 8).

“Ya Rabb, saya berlindung kepada-Mu dari perbuatan menduakan Engkau dengan sesuatu, sedangkan aku mengetahui hal itu. Ya Rabb, saya berlindung kepada-Mu dari perbuatan mensekutukan Engkau dengan sesuatu, sedangkan aku tidak mengetahui hal itu”.

F. Mengantungkan Hidup Kepada Allah SWT

وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ.

“Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”

(QS. Ali Imran: 122).

وَمَنْ يَتَوَّكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ. ( الطلاق : 3 ).

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah

akan mencukupkan (keperluan) nya.”

(QS. Al-Thalaq: 3).

Kita semua tahu bahwa hidup ini berada dalam genggaman-Nya. Dia yang menciptakan dan Allah pula yang mengaturnya. Tiada satu kejadian yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Ada sesuatu yang diingini manusia, tapi tidak didiingini-Nya, maka sesuatu itu tidak akan pernah terwujud. Ada sesuatu yang tidak diingini, namun diingini Allah, maka pasti akan terjadi juga. Semua berjalan menurut garis ketentuan-Nya.

Manusia itu makhluk berakal, tetapi terkadang tidak rasional. Dia ingin semua harapannya terpuaskan, padahal Allah telah menciptakan kata “ya dan tidak”. Artinya tidak semua keinginan itu oleh Allah dipenuhi. Manusia harus tahu bahwa kehendak itu ada dua, yaitu kehendak Allah dan kehendak manusia. Ketentraman batin akan memihak kepada orang yang mampu memadukan dua keinginan itu kedalam keinginannya. Jika dia mempunyai harapan, maka dia timbang-timbang dulu sebelum melangkah, apakah harapannya itu sesuai dengan keinginan Allah? Jika sesuai, dia berani melangkah. Kepuasan yang diperolehnya adalah kepuasan hakiki yang membawa pada kedamaian hati. Jika keinginannya itu bertolak belakang dengan keinginan Allah, maka dia hentikan. Tetapi jika diteruskan, dia akan beroleh penyesalan dan kesedihan hati. Seperti gemar melakukan kemaksiatan.

Manusia ingin selalu sehat, tidak ingin sakit. Manusia ingin kaya dan berkecukupan, tidak ingin hidup miskin dan serba kekurangan. Manusia ingin menjadi orang pandai dan berilmu, tidak ingin menjadi orang yang bodoh. Manusia ingin mulia dan tidak ingin menjadi hina. Tetapi Allah tentukan dan ciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan dan silih berganti itu –terkadang sehat terkadang sakit– menghiasi kehidupan, agar manusia menyadari arti dan tujuan kehidupan. Semua itu menjadi lahan ujian bagi manusia. Siapakah manusia yang paling baik amalnya? Siapa yang berhak mendapat ridha Allah? Siapa yang pantas mendapat murka Allah?. Sebagai orang mukmin dia serahkan keputusan akhir –setelah memaksimalkan dan memperbagus ikhtiyar- kepada Allah SWT. Dia gantungkan hidup sepenuhnya kepada-Nya. Sehingga apapun yang terjadi, dijalaninnya dengan hati tenang dan ridha. Dia tidak ikut kalut dalam suasana semrawut. Dia tidak bingung, saat banyak orang panik. Dia tidak tamak, saat banyak orang dihinggapi penyakit keserakahan. Dia malu pada Allah, walaupun begitu banyak orang bersikap takabur. Dia lihat semua yang tampak berasal dari satu sumber dan bermuara pada satu sumber, yaitu Allah SWT. Dia pasrahkan hidupnya kepada Allah dengan terus memohon petunjuk dan bimbingan-Nya. Dia tidak mau bersandar kepada selain Allah. Inilah yang dinamakan tawakal. Tawakal bererti mengantungkan hidup kepada Allah semata.

Tawakkal berasal dari kata wakkala yang berarti memasrahkan atau mewakilkan. Jika dikatakan, “wakkala Ahmad amrahu ila Hamid”, artinya Ahmad menyerahkan urusannya kepada Hamid. Ahmad orang pertama yang menyandarkan urusannya kepada Hamid sebagai orang kedua. Sehingga ada sebagian orang beranggapan bahwa makna tawakkal adalah tidak perlu berusaha dengan badan dan tidak perlu mempertimbangkan dengan hati serta akal. Anggapan itu membuat mereka menafikah Allah dalam urusan dunia. Allah hanya ada dalam urusan akhirat saja seperti shalat dan ibadah lainnya. Anggapan ini justru sangat jauh dari makna yang sebenarnya. Mereka menyerahkan diri bulat-bulat kepada Allah , tanpa adanya usaha dan ikhtiar. Berusaha dan berikhtiar dengan sebaik-baiknya tidak akan megeluarkan dia dari garis tawakal. Tidak dinamakan tawakal orang yang akan menyebrangi lautan tanpa perahu. Tidak dikatakan tawakkal orang yang akan mengaruni gurun sahara tanpa bekal. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban diceritakan bahwa ada seorang Arab dusun yang ingin bertawakkal kepada Allah, sehingga dilepaskan semua untanya. Lalu Rasulallah SAW bersabda: “Ikatlah untamu kemudian bertawakallah.” Seperti orang yang menabur bibit di tanah subur kemudian tawakkal. Seperti orang bercocok tanam kemudian bertawakal kepada Allah. Jadi, letak tawakkal adalah seusai manusia beriktiar dan berusaha.

Tawakal merupakan ungkapan kesadaran hati kepada Allah. Manusia belum bisa dikatakan tawakkal, kecuali dia bersandar kepada-Nya sesudah berusaha dan beriktiar. Karena tawakal terus mengiringi usaha dan iktiar. Jika hati sudah yakin dan mantap bahwa Allah selalu bersamanya, Allah yang menentukan hidupnya, hasil dari jerih payahnya berada dalam keputusan-Nya, ilmu, rahmat, dan kekuasaan-Nya sangat sempurna, tak ada rahmat selain rahmat-Nya, tak ada tambatan hati selain kepada-Nya, dan dia serahkan hanya kepada Allah dan tidak condong kepada selain-Nya, berarti dia sudah bertawakal kepada Allah.

Tawakal merupakan buah tauhid yang sempurna dan iman yang kuat. Seseorang tidak akan menyerahkan urusannya kepada orang yang tidak dikenalnya. Orang akan menyerahkan semua perkara kepada Allah jika dia telah mengenal betul tentang Allah. Semakin dia kenal Allah semakin tumbuh subur tawakal di dalam hatinya. Orang yang sudah mampu mengantungkan hidup kepada Allah, dia akan selalu baik sangka kepada Allah. Kejadian buruk yang menimpanya, dia kembalikan kepadaa-Nya. Dia petik hikmah di baliknya. Hatinya terus merasa dekat dengan Allah. Tidak ada yang terjadi kecuali Allah selalu terlibat di dalamnya. Kebahagiaan yang dia terima, tidak sampai melupakan dia kepada Pemberi kenikmatan. Tawakal menjadikan dia semakin taqwa kepada Allah. Susah senang tidak mengurangi jarak kedekatan dia dengan Allah. Cukup kurang tak mempengaruhi ketaqwaannya kepada Allah. Cacian dan pujian yang ditujukan kepadanya, tidak menyurutkan kegigihan dia untuk bersama dengan Allah. 24 jam dalam sehari dia gantungkan dirinya kepada Allah SWT.

Tawakal itu ada dua, yaitu tawakal kepada Allah terhadap perkara yang mempunyai sebab dan tawakal kepada Allah terhadap perkara yang tidak mempunyai sebab.

Pertama, tawakal kepada Allah terhadap perkara yang mempunyai sebab. Seperti mencari kehidupan, sakit, ilmu, ibadah, dan rahmat Allah SWT. Allah senang kepada orang yang giat dan rajin bekerja, kemudian dia serahkan hasil akhirnya kepada Allah. Allah cinta kepada orang yang khusyu’ ikhlas dan tekun beribadah, kemudian dia serahkan sepenuhnya kepada Allah. Allah suka kepada orang yang rajin menntut ilmu dan dia hanya berharap Allah memberi kesempatan untuk memetik manfaat dari ilmu yang dia pelajari. Tawakal ini berdasarkan sebab akibat. Orang yang bergantung kepada Allah seusai berikhtiar, Allah akan mencukupi keperluannya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَنَّكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ

تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا. (رواه إبن حبان ).

“Seandainya kamu benar-benar bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi rizkimu sebagaimana Dia memberi karunia kepada burung yang pergi dengan perut lapar dan pulang dengan perut kenyang.” (HR. Ibnu Hibban).

Kedua, tawakal kepada Allah terhadap perkara yang tidak mempunyai sebab. Kematian yang menimpa seseorang, bayi lahir dalam keadaan cacat, jenis laki-laki dan perempuan, dan jodoh. Semua telah digariskan dan dikehendaki Allah terjadi. Orang mukmin di saat seperti ini tidak boleh goyang, putus asa, dan sedih hati, tetapi harus ridha terhadap kehendak-Nya seraya mengatakan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. “Sesungguhnya kita ini kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya.’ Hayati dan renungkan makna kalimat ini dengan mengingat bahwa kita dilingkupi taqdir (ketetapan Allah), Untuk itu mengantungkan diri kepada Allah tentang masalah ini merupakan salah satu jalan meraih cinta Allah SWT.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s