وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَ أَبْصَارَهُمْ.

“Dan Kami bolak-balikan hati mereka dan penglihatan mereka.”

(QS. Al-An’am: 110)

 

Manusia dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan dan pergantian. Manusia bermula seorang bayi, kemudian berkembang menjadi seorang anak. Dari seorang anak berubah menjadi remaja. Dari remaja berupah menjadi dewasa dan akhirnya menjadi tua renta. Hingga ajal menjemput nyawa. Ini berarti manusia adalah makhluk yang selalu mengalami perubahan. Perubahan sangat dekat dengan fitrahnya. Perubahan itu sangat dipengaruhi banyak faktor. Misalnya, pengetahuan, keyakinan, pergaulan, pengalaman, dan lain sebagainya. Sangat jarang kita menjumpai manusia yang tetap tanpa perubahan. Perubahan pada diri manusia merupakan kelaziman. Pada dasarnya manusia membutuhkan perubahan. Hidup terasa menjemukan jika tanpa ada perubahan. Seorang karyawan merasa jemu melakukan pekerjaan yang tidak berubah. Setiap orang mengalami kejemuan dengan sesuatu yang monoton. Demikian juga dengan hati kita, ia akan selalu berubah-ubah tidak tetap. Terkadang hati ini lembut, terkadang sebaliknya hati mengeras. Terkadang hati ini bercahaya dan terkadang hati ini gelap. Terkadang hati begitu tawadhu’ dan terkadang berubah angkuh. Suatu saat hati itu sabar, di waktu yang lain hati tak sabar. Suatu waktu hati ini merasa tenang, tapi suatu kali yang lain hati merasa bigung.

Hati dapat taat kepada Allah, dan dapat pula durhaka kepada-Nya. Dalam beribadah hati dapat mencapai derajat khusyu’, dan dapat pula hati lalai. Iman yang ada dalam hati pun dapat berubah-ubah. Pagi beriman, sore hari ingkar. Sore hari beiman, pagi hari kufur. Begitulah hati manusia. Perubahan hati sangat cepat dan terkadang tidak terkendali. Bisa jadi hati dihiasi oleh sifat-sifat yang luhur, tetapi hati juga bisa dililit sifat-sifat tercela. Hati bisa merasakan tentram saat bersama Allah. Hati juga merasa resah ketika menghadap Allah karena ia merasa banyak dosa saat menghadap-Nya.

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan qolb yang artinya bolak-balik. Karena memang sifatnya yang cepat berbolak-balik (berubah). Hati bagaikan bulu ayam yang tergantung di atas pohon yang diboalk-balikan oleh angina sehingga bagian atas terbalik ke bawah dan bagian bawah terbalik ke atas. Demikianlah yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِى أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّـبُهَا الرِّيْحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ. رواه أحمد

“Hati dinamakan qolb karena sifatnya yang cepat berubah. Hati itu bagaikan bulu (ayam) yang tergantung di atas sebuah pohon, yang dibolak-balikan oleh angina sehingga bagian atas terbalik ke bawah dan bagian bawahterbalik ke atas.”

(HR. Ahmad)

Bahkan dalam hadits lain hati berubah sangat cepat melebihi perubahan air yang sedang mendidih. RAsulullah SAW pernah bersabda:

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانًا. رواه أحمد

“Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya

dari panci yang berisi air mendidih.”

(HR. Ahmad)

Perubahan hati terlihat pada tutur kata dan wujud perbuatan yang dilakukannya. Karena itu, kita tak perlu heran, jika kita menjumpai orang yang sering bersilat lidah atau orang yang tidak komitmen dengan janji yang ia ucapkan. Tetapi, walau pun keberadaan hati berubah terus, bagi orang mukmin hendaknya berusaha menjaga dan merawat kebersihan hati dari penyakit yang dapat merusaknya. Hati boleh berubah-ubah selama perubahan itu tidak menjurus pada maksiat atau durhaka kepada Allah. Dan tidak seorang pun yang dapat menjamin hatinya tetap dalam satu keadaan. Hati akan berubah mengikuti perkara yang sedang di hadapi. Perbedaan perkara menyebabkan adanya perubahan hati. Misalnya dalam bekerja, jika pekerjaannya banyak membawa keuntunggan, hati tenang dan ia terasa nyaman bekerja. Namun, manakala pekerjaannya bangkrut, maka hati resah dan ia berpaling darinya. Hati akan condong pada perkara yang disukai dan berpaling dari perkara yang tidak disenangi. Dari sinilah, dapat diketahui bahwa perbedaan niat atau motivasi seseorang dalam melakukan pekerjaan ditentukan oleh sudut pandang yang berbeda-beda.

Orang yang shalat, saat takbiratul ihram ia niat ikhlas karena Allah, tetapi ketika berada di tengah-tengah melakukan shalat hati bisa berubah sewaktu-waktu, karena ia mengingat sesuatu atau karena ia terlena dengan bujuk rayu setan. Orang yang bersedekah, semula niatnya karena Allah, tetapi karena ia mendapat sanjungan dan pujian, niatnya berubah bangga mendapat pujian. Perubahan-perubahan itu yang harus dijauhi dan ditinggalkan oleh orang yang rindu akan rahmat Allah. Rahmat dan ridha Allah akan diberikan kepada orang yang beramal karena Allah semata mulai awal hingga akhir amalnya. Dan tidak bisa menjaga niat ini kecuali ia menyerahkan urusannya kepada Allah sebelum beramal.

Kita harus mengetahui bahwa hati berada dalam genggaman Allah. Allah berfirman: “Ssungguhnya Allah-lah yang membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal:24). Yaitu yang menguasai hati manusia. Allah SWT tidak akan menerima amal kecuali orang yang hatinya bersih (ikhlas): Firman Allah SWT: “Kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS.Asy-Syu’araa’: 89). Hati dapat mengeras karena banyak melakukan larangan Allah dan sering meninggalkan perintah-Nya. Demikian juga orang yang jauh dari ulama hatinya akan membatu. Sering tertawa, mengkonsumsi yang haram, melakukan dosa besar menyebabkan hati menjadi beku. Hati yang beku sulit menerima sentuhan hidayah Ilahi. Hati yang terus beku jauh dari rahmat Allah. Allah berfirman: “maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar :22). Allah bakal mengampuni dosa orang yang takut pada azab Allah dan ia datang dengan hati yang bertaubat. Allah menggolongkan pada hamba-hamba yang beruntung, orang yang terus terpaut dengan Allah. Allah berfirman: “bagi orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan ia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS.Qaaf :33).

Seorang mukmin harus mengetahui keadaan hati yang selalu berubah-ubah. Dan juga hendaknya mengetahui penyebab hati menjadi rusak dan upaya-upaya pencegahan, serta solusi-solusinya. Jika kita mengetahui hati mulai terasa sakit, cepat-cepat ia mengobati hatinya sebelum tertutup yang pada akhirnya membuat dirinya akan hancur. Masalah ini sangat penting, karena Allah SWT telah mengingatkan kita akan bahaya hati yang keras, lalai, sakit, buta, tertutup, terbalik, dan terkunci mati. Tanpa menyadari bahwa hati itu selalu berubah-ubah, sering kali ia tidak siap dan menerima masalah yang di hadapi. Dengan menyadari bahwa hati yang selalu berubah-ubah, seseorang akan lebih siap menjalani hidup di bawah ketetapan Allah.

Perhatikan anjuran Rasulullah dikala kita menyukai sesuatu! Rasulullah pernah bersabda:

أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًامَا، عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًامَا، وَ أَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًامَا، عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًامَا. رواه الترمذى

“Cintailah apa yang kamu cintai sekedarnya saja, boleh jadi apa yang kamu cintai itu menjadi sesuatu yang paling kamu benci pada suatu hari nanti. Bencilah Sesuatu yang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi ia akan menjadi sesuatu yang paling kamu sukai pada suatu hari nanti.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menganjurkan kita sedang-sedang saja dalam menyikapi permasalahan hidup. Dan hadits ini mengandung larangan kepada kita untuk berlebih-lebihan dalam setiap perkara. Karena Rasulullah saw mengetahui betul bahwa hati manusia selalu berbolak-balik. Sekarang cinta, besok lupa. Kemarin benci, sekarang rindu ingin ketemu. Dan karena, cinta yang berlebih-lebihan, jika cintanya tidak kesampaian, maka ia akan menemui kekecewaan. Berlebih-lebihan termasuk perbuatan yang dilarang, karena ia merupakan perbuatan setan.

Mengapa hati turus berubah-ubah? Sebab, hati merupakan muara dari segala tujuan. Jika sesuatu A mengenai hati dan berpengaruh kepadanya, maka dari arah lain ada pula sesuatu B mengenai hati yang bertolak belakang dengan sesuatu A, hingga hati menjadi berubah. Demikian juga, saat setan turun ke hati dan mengajaknya untuk memperturutkan keinginan nafsu, maka malaikat akan turun ke hati untuk menghalau setan dari hati. Kalau setan menarik hati untuk berbuat buruk, maka malaikat menarik hati untuk berbuat kebaikan. Karena itu, suatu waktu terjadi perebutan antara setan dan malaikat untuk menguasai hati. Hati penuh dengan sifat-sifat keburukan, jika mengikuti bisikan setan dan memperturutkan bisikan itu. Hati penuh dengan sifat-sifat yang baik, jika hati mengikuti bimbingan malaikat dan merealisasikan dalam perbuatan. Karena itu, hati selalu berubah-ubah.

Meskipun hati selalu berubah, ada hal yang tidak boleh berubah, yaitu ketaatan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya. Iman dan taqwa jangan sampai berubah-ubah, karena keduanya pilar kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat kelak. Baik dan buruk, bahagia dan susah, pahala atau siksa, surga atau neraka bergantung pada keduanya. Saking begitu pentingnya, keduanya menjadi tolak ukur diterima atau ditolaknya amal perbuatan oleh Allah. Karena itu, Rasulullah saw selalu berdoa agar diberikan ketetapan hati untuk mentaati Allah.

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

“Wahai Zat Yang Memalingkan hati, palingkanlah hati kami

kepada ketaatan kepada-Mu!”

(HR. Muslim).

Keikhlasan harus tetap terjaga kualitasnya pada saat beramal. Jika ia rusak maka cedra amalnya. Ikhlas beramal karena Allah tidak boleh berubah, karena ia ruh ibadah. Tanpanya, sia-sia amalnya. Demikian juga, tetap berpedoman dengan al-qur’an dan as-sunnah. Ini tidak boleh berubah atau berpindah pada pedoman yang lain. Keduanya pelita hidup dan penuntun menuju surga Allah. Orang yang berpijak pada keduanya akan selamat di dunia dan di akhirat.

Akhirnya kita hanya bisa berusaha dan berharap, semoga Allah berkenan memberikan ketetapan iman, ketaqwaan, keikhlasan, dan berpedonan dengan al-qur’an dan as-sunnah. Karena dengan ketetapan hati pada hal-hal ini, merupakan modal awal untuk dapat selalu bersama Allah. Semoga Allah melindungi kita dari hati yang lalai, lupa, dan buta. Hingga kita dapat mengkap keagungan dan kebesaran Allah SWT. Amin. Wallahu ‘A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s