H. Aku Mau Kalau Allah Yang Memberi

أُطْلُبُ الْحَوَائِجَ بِعِزَّةِ اْلأَنْفُسِ ، فَإِنَّ اْلأُمُوْرَ تَجْرِى بِاْلمَقَادِرِ. رواه ابن عساكر

“Carilah kebutuhan hidup dengan tetap menjaga kesucian diri. Sesungguhnya semua perkara bergulir menurut taqdir Allah.”

(HR. Inbu ‘Asakir )

Semua orang mengingini tiap harapannya terpenuhi. Akan tetapi semua bergantung pada kehendak dan ketetapan Allah. Dan kita tahu bahwa tidak semua taqdir Allah itu cocok dengan keinginan makhluk-Nya. Terkadang berbalik, dia ingin hidup lebih lama, namun Allah mencabut usianya yang masih muda. Dia ingin riskinya melimpah ruah, tapi Allah jadikan dia menjadi orang yang biasa-biasa saja. Dia ingin bahagia dengan harta melimpah, ternyata Allah menjadikan harta itu bencana bagi hidupnya. Terkadang taqdir Allah sesuai dengan keinginannya. Ini yang banyak menajdikan manusia hatinya senang.

Sakit misalnya, sakit merupakan taqdir Allah dan tentu semua orang tidak mengingini sakit. Justru yang dia ingin adalah tubuh selalu sehat. Banyak orang berburu kekayaan dan kedudukan tinggi unntuk meraih ketentraman hidup, tetapi Allah berkehendak lain, malah kekayaan dan kedudukannya menjadi akar enyebab kesedihan dan kekalutan hidupnya. Maha Adil Allah yang menggenggam kehidupan ini.

Seseorang sangat senang jika taqdir Allah sesuai dengan kehendaknya. Hatinya menjadi tentram karenanya. Dia akan bersedih hati dan berduka jika taqdir Allah bertolak belakang dengan keinginannya. Hatinya menjadi suntuk dibuatnya. Ketahuilah, selama manusia memperturutkan nafsunya dan tidak menyadari akan keterlibatan Allah dalam menentukan keinginannya itu, maka jatuh bangun dia menyusuri hidup berujung pada kekecewaan. Sedangkan, jika dia menyadari bahwa semua itu atas kehendak Allah dan manusia hanya diperintahkan untuk sekuat tenaga berikhtiar, serta dia yakin semua hasilnya menyimpan hikmah dan ujian hidup, insyaallah dia akan lega menerima ketentuan Allah. Jika kegagalan yang tampak di depan mata, segera diterima dengan hati yang lapang dan melakukan koreksi diri yang ketat serta menyediakan solusinya. Sementara apabila ikhtiar dan jerih payahnya membuahkan hasil maksimal, dia sujudkan diri kehadirat Allah dan tasbih-tahmid deras mengalir dari lisannya. Kegagalan dan keberhasilan tidak memudarkan perhatiannya pada kebesaran Allah. Dia siap menerima apapun asalkan Allah yang mentaqdirkan. Dia terima dengan hati lega tiap riski Allah yang dicurahkan kepadanya. Seakan-akan dia berkata: “Aku mau asalkan Allah yang memberi.”

Ridha adalah obat yang paling mujarap bagi yang ditimpa kemalangan dan musibah. Karena ridha merupakan cerminan dari kelapangan hati untuk menerima segala kejadian yang telah digariskan oleh Allah di dalam qadha-Nya dengan rasa senang tidak kesal atau medongkol. Sedangkan kesal, sesal, dongkol, dan marah atas kegagalan yang menimpanya adalah racun pahit yang akan menambah kekalutan dirinya. Mengapa Rasulullah SAW melarang sahabat beliau meratap, membilang-bilang jasa, memukul-mukul kepala, mengeluh, menarik-narik rambut ketika ditimpa musibah seperti gagal dan kematian? Itu karena meratap, menarik-narik kepala, dan lain sebagainya hanya akan memanbah kusut hati. Kekalutan dan kegelapan hati akan menghantarkan orang pada kehancuran. Prilakunya menjadi tidak terkendali. Dari hati yang gelap dan suntuk menjelma menjadi sosok buruk yang bukan jati dirinya. Kalau sudah demikian yang elok berubah menjadi buruk, yang yang indah terlihat jelek, kebenaran selalu dianggap salah, dan sedikit saja disapa atau ditegur sudah marah. Dari hati yang tidak ridha terhadap ketetapan Allah akan melahirkan berbagai malapetaka dan kekalutan hidup. Oleh karena itu, Allah sangat murka kepada orang yang tidak ridha terhadap taqdir Allah. Allah berfirman dalam hadits qudsi:

 

مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَقَدَرِيْ فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ. رواه الطبؤانى

“Barang siapa yang tidak ridha dengan qadha dan qadar-Ku, hendaklah

ia mencari Tuhan selain dari-Ku.”

(HR.Tabrani)

Perasaan ridha terhadap qadha dan qadar Allah akan muncul setelah seseorang beriman terhadap adanya qadha dan qadar Allah, tawakkal kepada Allah atas qadha-Nya, dan sabar terhadap qadha buruk dan syukur terhadap qadha yang baik. Dengan prasaan ridha terhadap qadha Allah ini akan timbul kesenangan (sakinah) dan ketentraman (tuma’ninah) serta bahagia (sa’adah) di dalam hati.

Bila sikap ridha telah tercapai, maka datang pula ridha dari Allah. Ridha manusia terhadap taqdir Allah akan menjadi sebab datangnya ridha Ilahi atas hamba. Jika maqam ini sudah dicapai, maka kebahagiaan dan ketentraman batin akan dapat diraih, sekalipun hasrat tak terbalas, cita-cita tak diraih, dan tujuan tidak tercapai. Di mana saja dia berada, kesenangan selalu ada dalam dirinya dan mengitari hidupnya. Coba kita perhatikan penuturan Anas bin Malik r.a. tentang perasaan sakina pada diri Rasulullah SAW.

خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَ سِنِيْنَ فَمَا قَالَ لِيْ لِشَيْئٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ ؟ وَلاَ لِشَيْئٍ لَمْ أَفْعَلْهُ لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلاَ قَالَ فِى شَيْئٍ كَانَ لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ وَلاَ فِى شَيْئٍ لَمْ يَكُنْ لَيْتَهُ كَانَ. وَكَانَ خَاصَمَنِيْ مُخَاصَمَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُوْلُ دَعُوْهُ لَوْ قَضَى شَيْئًا لَكَانَ.

“Aku telah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama 10 tahun, maka tidak pernah beliau mengatakan terhadap apa yang telah aku kerjakan: “Mengapa kamu kerjakan?” Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan: “Mmengapa tidak kamu kerjakan?” Tidak pula beliau berkata atas barang yang ada : “Mengapa barang ini ada?” Tidak pernah beliau berkata tentang barang yang tidak ada: “Alangkah baiknya kalau barang itu ada?” Kalau pada suatu waktu terjadi perselisihan saya dengan keluarganya, beliau berkata kepada keluarganya itu: “Biarlah, sebab apa yang telah diqadhakan Allah mesti terjadi”.

Di sini nyata sekali, bahwa buah dari ridha adalah kesenangan hati dan ketentraman jiwa. Senang hati memandang segala ciptaan Allah. Lega hati menerima segala keputusan Allah. Sabar dan tetap mendekat kepada Allah saat musibah menghampiri dirinya. Hingga tidak terbesit di dalam hati niatan untuk mencari aib dan cacat terhadap pemberian Allah. Semuanya itu menentramkan jiwanya, karena ia diciptakan oleh Allah Yang Maha Penyayang Allah kekasih yang selalu dirindukannya.

Suatu kali ada seorang nenek yang hidup sendirikedatangan tamu istimewa. Dia merupakan pemuka agama di kampung itu. Katakan saja dia seorang ustadz. Ustadz ini ingin mengetahui keadaan nenek itusekaligus ingin memberi sedikit sedekah kepadanya. Betapa bahagianya nenek itu atas kedatangan sang ustadz. Bergegas dia persilahkan masuk dan menyuguhkan secangkir minuman hangat. Sudah menjadi kebiasaan nenek itu, setiap ada tamudia berusaha memberi makanan walaupun sekedarnya. Demikian pula dengan sang ustadz itu, nenek itu menghidangkan makanan kemudian mempersilahkan sang ustadz menikmati alakadarnya. Sang ustadz melihat hidangan itu hanya nasi, daun singkong rebus dan sambal di sampinya. Sang ustadz mau menerima tawaran itu asalkan ditemani nenek itu. Nenek itu menerima. Dengan perlahan-lahan nenek itu mengambil nasi dan daun singkong. Demikian sang ustadz mengikuti nenek itu. Betapa ta’jubnya sang ustadz ketikan nenek itu akan menyantap makanannya dia angkat kedua tangan seraya berkata : “Matur nuwun Gusti, Panjenengan tasih maringi riski dateng kulo ingkan lemah lan awon” Artinya: “Terima kasih ya Allah, Engkau masih mau memberi hamba yang lemah dan penuh kekhilafan” Tampak di kedua kelopak mataya berkaca-kaca merasa haru atas kemurahan Allah yang diberikan kepadanya. Kemudian sedikit-demi sedikit nenek itu melahab makanan di hadapannya bersama sang ustadz. Bulu kudu sang ustadz pun berdiri mendengar ucapan sang nenek.

Kisah nyata ini menunjukkan kepada kita bahwa sosok nenek yang lemah begitu besar kesiapan batinnya menerima semua pemberian Allah. Hidangan yang sangat sederhana pun terasa begitu lezat jika hati terpaut dengan Sang Pemberi hidangan yaitu Allah. Saat menikmati hidangan merasa ditunggu dan diawasi oleh Allah. Hingga rasa syukur meresap disetiap aliran darahnya. Puja-puji terus dipanjatkan kepada Allah Begitu Rahman dan Rahimnya Allah kepada setiap hamba-Nya. Ketahuilah!, Allah sangat menyukai orang yang menikmati suatu nikmat, sedangkan dia tahu siapa pemberinya, merasa ditunggu, dan diakhiri dengan memuji-Nya.

Bukankah jika seseorang yang kita istimewakan itu memberi sebuah hadiah, maka kita terima hadiahnya dengan hati lega dan hadiah itu kita eman-eman. Misalkan, sang kekasih kita memberi kado ulang tahun kepada kita, pasti kita senang dan berteriam kasih kepadanya. Bukan besar atau kecilnya hadiah yang menjadi perhatian kita, tetapi karena siapa yang memberinya? Penghargaan dan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kita berikan lantaran orang yang sangat kita istimewakan.

Nah, apalagi Allah yang memberi hadiah atau nikmat kepada kita. Zat yang sangat istimewa dan Maha segala-galanya. Rasa lega dan ridha akan muncul dari dalam diri seseorang, manakala dia merasa bersama Allah dan ma’rifat kepada-Nya. Sedikit banyak pemberian, sakit atau sehat, senang atau susah, sukses atau gagal, bukan menjadi perhatian utamanya, tetapi yang menjadi perhatiannya adalah siapa yang memberinya?. Kita tahu jawabannya, yaitu Allah. Kalau ini yang menjadi dasar kita dalam meyikapi riski Allah, insyaallah hati kita akan tentram dan kebahagiaan akan berpihak kepadanya.

Apabila ketentraman dan kedamaian telah tumbuh di atas hati yang penuh dengan keridhaan kepada Allah, akan bertambah kemantapan iman, bertamba teguhlah hati bergantung kepada Allah dan agama-Nya. Allah berfirman dalam al-qur’an:

“Dia (Allah) yang menurunkan sakinah ke dalam hati orang-orang yang beriman, supaya bertambah-tambahkeimanan mereka bersama keimanan mereka (yang telah ada).” (QS.Al-Fath:4)

Dan orang yang telah mencai keridhan bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan menerima segala qadha dan qadar-Nya berarti dia orang yang dapat merasakan lezatnya keimanan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ اْلإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا. رواه مسلم و أحمد و الترمذي

“Orang yang dapa merasakan lezatnya iman adalah orang yang ridha terhadap Allah sebagai Tuhannya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi)

Semoga kita semua dijadika oleh Allah hamba yang selalu terjaga kualitas keimanan kita dan selalu ridha terhadap semua nikmat dan ketetapan Allah. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s