I. Malunya Aku Ya ….. Allah

ثَمْرَةُ الْمَعْرِفَةِ ثَلاَثُ خِصَالٍ : الحَيَاءُ مِنَ اللهِ، وَ الْحُبُّ فِى اللهِ، وَاْلأُنْسُ بِاللهِ.

“Buah ma’rifat (mengenal Allah) ada tiga: Malu terhadap Allah, cinta kepada Allah, dan rindu (ingin bertemu) kepada-Nya.”

(Perkataan Hukama)

Sudah menjadi tabiat manusia jika kebaikannya disebut orang dia merasa bahagia. Sebaliknya, jika aib dan celanya dibeberkan dimuka umum dia menjadi murka dan malu. Malu jika aibnya terlihat orang. Suami malu kedurhakaannya dilihat anak-istrinya. Seorang guru malu kebiasaan buruknya terlihat oleh siswa-siswinya. Demikian pula jika seseorang mempunyai kelemahan dan kekurangan. Seorang wanita yang berjerawat di wajahnya, dia malu untuk bertemu dengan orang spesialnya. Intinya manusia akan merasa malu jika kekurangannya selalu terawasi. Hidupnya terasa tidak nyaman. Gerah dan hilang kepercayaan dirinya saat tersingkap kelemahan dan kekurangan diri. Semakin banyak kekurangan diri, biasanya semakin kecil kepercayaan dirinya.

Demikian pula saat setiap kali kita bertemu seorang tertentu, kita selalu diberi sesuatu tentu lama-lama muncul rasa malu untuk menerima pemberiannya. Orang yang hidupnya seperti benalu hanya menumpang kepada orang lain, dia akan merasa malu hidup terus menggantungkan diri kepada orang lain. Inginnya hati hidup mandiri, tetapi tak kuasa menjalani. Inginnya hati bebas merdeka dari hidup bergantung pada orang lain, tetapi fakta yang berbicara lain. Seakan-akan potensi diri telah lenyap dari dirinya. Kekurangan dan kelemahannya mengikat dirinya untuk mampu bersaing dengan yang lainnya.

Kita tahu bahwa sejak Allah ciptakan diri ini, kita tak pernah putus dari nikmat-Nya. Seakan-akan Allah tak perduli apakah dia orang yang durhaka atau orang yang bertaqwa di muka bumi. Allah tetap memberi semua hajatnya. Allah tetapkan darahnya mengalir deras di tubuhnya. Allah lancarkan hela nafasnya tanpa sesak dan tersendat. Allah ringankan kakinya melangkah. Allah buka kedua matanya untuk melihat keindahan alam. Allah suburkan bumi untuk menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan yang dibutuhkan manusia. Allah resapkan air kedalam semua celah kehidupan untuk menopang berlangsungnya kehidupan ini. Dan Allah telah menjamin hidup hamba-hamba-Nya.

Tetapi aneh sekali hidup sekarang ini, banyak orang yang merasa tidak diperhatikan oleh Allah, hingga batas-batas hukumnya diterjang. Godaan nafsu terus mendorong dirinya untuk menumpuk bekal hidup yang fana. Salah satunya, ada kisah yang menarik untuk kita cermati.

 

Ada seorang kepala keluarga yang mempunyai banyak anak datang mengadukan nasibnya kepada seorang syekh yang arif. Dia berkata kepada syekh itu: “Wahai syekh saya ini orang miskin dan anak saya banyak.” Lalu memangnya kenapa? Dia menjawab: “Bagaimana dengan riski kami?.” Syekh menjawab: “Baiklah, sekarang kamu pulanglah kerumahmu, dan carilah di antara anggota keluargamu, siapakah di antara mereka yang riskinya tidak dijamin oleh Allah?”. Lalu dia berfikir dalam-dalam dan kemudian menjawab pertanyaan syekh itu. Dia berkata: “Oh tidak ada wahai syekh.” Jawabnya. Syekh lalu berkata: “Kalau memang tidak ada, mengapa kamu masih mengadu riskimu kepadaku? Padahal riskiku dan riskimu sudah Allah tetapkan.” Ketahuilah bahwa tidaklah berbuat demikian ini kecuali orang yang lemah imannya dan melangkahi ketentuan Allah SWT.

Jika kita renungkan dalam-dalam sepertinya Allah tak akan biarkan kita hidup terlantar, kecuali orang yang sangat dimurkai. Apapun akan dikasih, bahkan sesuatu yang belum kita minta pun Allah beri. Walaupun demikian Allah justru menyuruh hamba-Nya untuk rajin memohon kepada-Nya. Dan termasuk orang yang dimurkai jika orang itu tidak mau berdoa. Tetapi, orang yang menyadari betapa banyak pemberian Allah yang diberikan kepadanya, rasanya dia malu untuk meminta. Tetapi karena yang memerintahkan berdoa adalah Allah, maka dengan hati malu dia pun memohon kepada-Nya. Dia malu untuk mengucapkan kata-kata permohonan. Lidahnya kaku untuk memanjatkan doa kepada zat yang sangat Dermawan. Sorotan matanya merunduk kebawah di hadapan Allah yang Maha Besar. Hati dan jiwa disimpuhkan kepada Zat Yang Maha Mulia.

Dia berhias diri saat akan menghadap-Nya. Langkah hati-hati menyembunyikan kekurangan diri dari pengawasan Allah. Tetapi, dia tahu kalau Allah awas dan melihat sekecil apapun kekurangan dirinya. Saat akan membaca kalam-Nya, dia baca penuh pengagungan karena dirinya yang hina masih diperkenankan membaca kitab suci-Nya yang mulia. Rasa malu saat membacanya tampak pada kekhusyu’annya. Tanpa pamrih dan tulus mendasari semua prilakunya. Dengan bermodal harap dan kepasrahan ingin amalnya diterimanya.

Saat kita berharap cita-cita kita tercapai, maka kita mengadu kepada Allah. Dikala diri tergelincir kelubang maksiat hingga jiwa berbalut dosa, dia seru Allah agar berkenan mengulurkan ampunan. Allah selalu membuka pintu ampunan bagi orang yang banyak berlaku buruk. Ketahuilah, bahwa rasa malu dan ridha itu merupakan buah dari kedekatannya dengan Allah. Mengenal Allah lebih dekat menghantarkan hamba pada derajat ma’rifat kepada Allah. Ma’rifat inilah yang membuahkan tiga perkara, yaitu rasa malu kepada Allah, cinta kepada-Nya, dan rindu selalu kepada-Nya.

Malu kepada Allah karena banyak melakukan maksiat kepada-Nya. Malu meminta tamabahan riski, karena banyak riski yang belum disyukuri bahkan disia-siakan. Malu ketika beribadah pikiran kemana-mana, hati was-was, dan kualitas ibadahnya sangat jauh dari kesempurnaan. Malu mererima nikmat Allah setelah berbuat maksiat kepada-Nya. Malu saat diri yang hina ini diperkenankan melantunkan firma-firman-Nya yang Agung. Malu dia dititipi ilmu Allah, saat tak kuasa menjalankannya. Malu kepada-Nya disetiap disetiap melakukan aktifitasnya, karena Allah terus mengawasi gerak-geriknya. 24 jam dia lalui selalu tersipu malu kepada Allah SWT. Hingga semua potensi, tenaga, pikiran, hati, ibadah, hidup, dan matinya di serahkan kepada Allah untuk mendapatkan ridha-Nya.

J. Puaskan Diri Dengan Pandangan Allah

Kita sering menjumpai kegiatan-kegiatan yang sifatnya meringankan beban saudara mukmin. Seperti bakti sosial, santunan fakir miskin, dan bantuan terhadap korban bencana alam, dan lain sebagainya. Kegiatan ini sangat baik dan memang diperintahkan dalam agama. Hanya saja nilai dan harganya akan hilang di sisi Allah manakala ada niatan terselubung selain karena Allah. Di antaranya karena ingin dilihat oleh orang banyak, mendapat pujian, dan lain sebagainya. Mereka merasa puas bila kegiatan ini diketahui oleh banyak orang dan disaksikan sekian banyak pemirsa di rumah. Mereka senang jika dikatakan sebagai seorang yang dermawan.

Dalam beribadah pun masih banyak terselip harapan untuk mendapat pujian orang. Jika banyak membawa keuntungan, berduyun-duyun dan rajin beribadah. Tidak sedikit orang ini masih senang dipandang oleh orang lain. Seorang yang berilmu merasa senang keilmuannya diketahui orang. Seorang hartawan sangat senang jika kekayaannya dipuja-dan dipuji banyak orang. Gadis atau pemuda tampan senang senang jika kecantikan dan ketampanannnya disanjung orang. Hingga berani membuka aib dan celanya dimuka umum. Seorang orator sangat senang jika pembicaraannya itu didengar dan mendapat sambutan hangat audiens. Seorang wanita senang memamerkan tubuh langsingnya dihadapan orang banyak dengan membuka auratnya. Dia tampakan semua pehiasannya supaya orang yang melihatnya berkata: “Wah lihat wanita itu cantik sekali”. Bangga sekali jika kepiawaian dan kelebihan diri dipandang dan dilihat orang. Hal ini tidak lain karena namanya ingin selalu di sebut dan dipuja dan dipuji. Kepuasan batin dengan sanjungan dan pujian orang itu menyebabkan Allah enggan memandang dirinya.

Kepuasan diri dengan pandangan dan komentar orang akan menyebabkan dirinya letih dan tersiksa. Jika banyak sanjungan tertuju padanya hatinya senang. Jika cercaan dan cemoohan menghujatnya, hatinya sangat sakit dan menimbulkan dendam. Dia akan memaksa diri untuk tampil yang terbaik. Dia akan diperbudak oleh isu dan larut di dalamnya. Dia akan berusaha menutupi kekurangan dan kelemahannya dengan cara apapun. Hutang, menipu, mengurangi timbangan, dan bahkan korupsipun kerapkali menjadi langkah alternatifnya. Sungguh sengsara orang yang diperbudak keadaan. Sungguh merana orang yang hidup dalam kepura-puraan. Terlihat di hadapan orang seperti hidup bergelimang harta, ternyata dia terlilit banyak hutang. Terlihat dia orang yang rajin ibadah, ternyata dia calon penghuni neraka. Terlihat dia gemar bersedekah, tetapi Allah enggan menerimanya. Kelihatannya dia sangat baik sekali, tenyata menyimpan maksud busuk yang tersembunyi. Kepura-puraan akan mengundang kemurkaan Allah.

Orang yang beriman akan menjauhi sifat negativ seperti itu. Dia akan tampil apa adanya. Kesederhanaan melekat pada kepribadiaannya. Rendah hati dan menjaga kehormatan di sisi Allah selalu terawat baik. Dia ajukan perlindungan diri hanya kepada Allah. Dia hilangkan setiap kelakuaannya dari pandangan orang. Dia sembunyikan kebaikan diri dari sorotan mata yang akan memandangnya. Dia malu kalau kelebihan dan kebaikannya didengar dan dilihat banyak orang. Resah dan kalut jika amalnya mendapat pujian orang. Hawatir Allah mencampakkan jerih payahnya. Dia hanya bisa puas ketika Allah senang memandang amalnya dan melupakan komentar makhluk. Karena memang Allah tidak akan memandang rupa, bentuk tubuh, gelar yang disandang, harta kekayaan, kelakuan kita, tetapi Allah akan memandang semuanya berangkat dari hatinya. Allah akan menerima amal dan kebaikan hamba jika semata karena Allah. Dan Allah berpaling dari amal dan kebaikan yang dikarenakan selain Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ

وَلٰٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ. رواه الطبرانى

“Sesungguhnya Allah tidak akan memandang pada rupa-rupamu, bentuk tubuhmu, dan harta bendamu, tetapi Allah akan memandang kepada hati dan kelakuanmu.”

(HR. Thabrani)

Seorang tidak dapat mencapai sentuhan kasih sayang Allah sehingga dia hilangkan keinginan untuk mendapatkan pujian orang. Seorang tidak akan mendapatkan senyum Allah hingga menghilangkan pandangan orang dari hati dan pikirannya. Cukup Allah saja yang memandang dirinya. Cukup Allah saja yang memujinya. Cukup Allah saja yang mengkomentari amalnya. Derajat ini merupakan derajat orang-orang yang tulus. Jika hamba sudah sampai pada derajat ini, dia akan melupakan semua yang ada. Semua yang ada disekelilingnya seakan-akan lenyap, yang ada adalah kedekatan dirinya dengan Allah.

Lukman Al-Hakim ketika memberi nasehat kepada putranya diajak masuk ke pasar dengan mengendarai himar. Lukman Al-Hakin yang naik himar itu sedangkan anaknya yang menuntun. Maka ada orang yang mencela: “Orang tua kejam, dia berkendaraan dan anaknya disuruh berjalan.” Kemudian dia menyuruh anaknya naik himar, tiba-tiba orang mencelanya: “Anak kurang ajar, bapak dijadikan buruh suruh menuntun himar.” Kemudian anaknya disuruh turun dan keduanya sama-sama menuntun himar itu. Tiba-tiba ada orang yang mencela keduanya: “Bodoh benar kedua orang itu, himar tidak dinaiki hanya dituntun saja.” Kemudian keduanya naik himar bersama-sama. Tiba-tiba ada orang yang mencela: “Sungguh tidak punya belas kasihan kedua orang itu.” Tujuan Lukman Al-Hakim adalah dia ingin menunjukkan kepada putranya bahwa orang-orang yang beramal atau mengambil hati orang tidak akan selamat dari celaan mereka. (Syarah Al-Hikam).

Begitulah kehidupan ditengah-tengah masyarakat yang hetrogen. Semakin banyak yang melihat amal dan kelakuan kita semakin banyak komentar dan celaan mereka tertuju kepada kita. Sedikit sekali orang yang dermawan memberikan pujian yang tulus. Tetapi yang banyak adalah meremehkan dan mencelanya. Karena itu, siapa yang beramal masih ingin dilihat dan dipandang oleh orang lain, maka dia tidak akan selamat dari cacimaki dan celaan mereka. Tentunya dengan suara-suara sumbang mereka, hati yang mendengar akan terasa sedih dan medongkol. Ketahuilah, mengapa cacimaki dan celaan sering menimpa kita? Itu karena diri kita sendiri yang mengundangnya. Inginnya amal kita mendapat pujian dan ucapan jempol dari orang lain, malah justru celaan dan hinaan yang menghampiri kita. Jika hamba ingin selamat dari celaan mereka, hilangkan hasrat hati ingin puas dipandang orang lain.

 

Apa gunanya? Apa perlunya? Apa mereka mampu menjamin amal kita diterima Allah? Tentu mereka tidak dapat menjaminnya. Bukankah sejak kita ada di dalam kandungan ( perut ibu ) kita seorang diri. Kemudian lahir ke dunia ini juga seorang diri. Hingga mati sekalipun masuk keliang lahat juga seorang diri tak satupun dari keluarga yang menemani. Menghadapai persoalan dan pertanyaan kubur serta huru-hara dalam kubur juga seorang diri. Menghadap Allah juga seorang diri. Di padang maghsyar mempertanggung jawabkan amal kita juga seorang diri. Lalu melalui sirat (titian) seorang diri. Dan apakah kita masuk surga atau neraka juga seorang diri. Lalu apakah kebutuhan kita kepada manusia? Ingat bahwa mereka tidak bisa menyelamatkan kita dan menjamin kita masuk surga. Amal kita adalah urusan kita dengan Allah bukan urusan mereka. Karena itu, tak perlu melibatkan mereka dalam hal niat dan tujuan beramal. Hanya ridha Allah-lah yang menjadi tujuan dan niatan semua amal kita. Cukupkan diri dan puaskan diri dengan Allah memandang amal kita. Insyaallah Allah berkenan menerima amal kita. Ini merupakan tanda-tanda orang menjaga kualitas keikhlasan amalnya.

Al-Harits Al-Muhasiby ra. Ketika ditanya tentang tanda orang yang sungguh-sungguh ikhlas kepada Allah. Dia menjawab: “Seorang hamba yang benar-benar ikhlas yaitu orang yang tidak menghiraukan terhadap penilaian orang. Dinialai apa saja oleh manusia dia tak perduli, asalkan dia sudah benar hubungannya dengan Allah dan tidak ada orang yang mengetahui walau sekecil debu dari amal kebaikannya. Dan dia tidak takut dan malu, jika ada orang yang mengetahui amal perbuatannya yang buruk. Intinya Pujian dan celaan tak berpengaruh pada amalnya. Jika pujian itu dapat memotifasi dirinya untuk lebih giat, berarti dia masih senang kebesaran dan kemulyaan di sisi manusia. Tetapi ketika pujian berubah menjadi celaan, dia malas dan tidak bergairah dalam beramal. Sifat dan sikap ini adalah hina di sisi Allah.

Selama kita masih suka kelebihan diri dan prestasi diri diteropong orang, maka selama itu pula Allah enggan memandang diri kita dan menolak amal kita. Kepuasan yang diperolehnya merupakan awal kehinaannya. Inginnya hati dihormati dan disegani, justru dia dikucilkan dan dijauhi. Karena itu, hindarkan diri dari mengharap kepuasan pandangan manusia. Tetapi pejamkan mata dari penglihatan manusia dan bukalah lebar-lebar dari pandangan Allah. Cukupkan dan puaskan hati diri dengan pandangan Allah semata terhadap semua amal kita baik yang bersifat duniawi atau yang bersifat ukhrawi. Insyaallah kita dapat meraih kepuasan yang hakiki. Jika setiap gerak-gerik dan diam kita selalu puas dengan pandangan Allah, tentu kita dapat selalu bersama Allah selama 24 jam. Dan tidak akan dapat mencapai derajat ini kecuali hamba yang berusaha mengawali semua amal niat karena Allah dan hamba yang terus merawat hati tetap ikhlas karena Allah.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s