N. Menjauhi Maksiat

Salah satu upaya agar do’a kita dikabulkan oleh Allah adalah hindari banyak berbuat dosa. Banyak dosa membuat hati tertutup. Hati yang yang tertutup lemak dosa sulit menerima sentuhan hidayah. Keras dan membatu menjadi ciri hati yang terbalut dosa. Semakin banyak dosa yang dilakukan semakin lekat noda menutupi hati. Jika hati sudah sangat pekat –tertutup noda-noda dosa- sorotan sinar kuat pun tak mampu menembusnya, kecuali ia menghentikan diri dari perbuatan dosa dan bertaubat dari dosa itu. Ketahuilah, sejuta petromak tak ada guna bagi orang yang buta. Suara halintar tak akan terdengar bagi orang yang tuli. Tak ada gunanya, tersenyum kepada orang buta dan bercerita pada orang tuli. Hati yang buta – karena gemar melakukan maksiat – akan dibimbing sahwat dan bisikan setan. Orang yang gemar melakukan maksiat berpikiran singkat. Yang penting nafsunya terpuaskan dan tak ambil pusing urusan di kemudian hari. Ia tak perduli kalau Allah punya balas dan Allah hidangkan ampunan. Gemar melakukan maksiat kepada Allah mewariskan penyesalan yang berkepanjangan. Tiap dosa meninggakan kegelisahan. Banyak dosa yang dilakukan, berarti ia akan banyak mengalami kegelisahan.

Senang berbuat maksiat, mulut jadi tidak terkontrol. Mulutnya terus mengalir deras kata-kata yang tak berfaedah dan tidak diperlukan. Bahkan banyak mengandung racun yang menyakiti orang. Hati menjadi sombong dan angkuh. Kebenaran seakan-akan bersumber dari dirinya. Sedangkan orang lain semua salah, lebih rendah dan lebih hina. Pikirannya berpijak pada sifat su’uzan (buruk sangka) dan hasud (iri hati). Kelakuannya kasar dan tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan akibat yang dilakukan. Ia bebas bergaul dengan siapa saja asal keinginannya tercapai. Hatinya sibuk dengan kemegahan dan kemewahan dunia. Hati terus gelisah terhadap urusan dunia yang belum diraih. Sedikit ingat Allah, berat beribadah, dan kualitas amalnya jauh dari sempurna. Tak sedikit orang yang didekatnya, kecuali hatinya tersakiti. Perbuatan maksiat mengundang kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Maksiat menyulut api kemurkaan Allah. Maksiat membuat Allah enggan mengabulkan doa yang panjatkan. Rahmat Allah akan terhenti manakala maksiat senang dilakukan. Keberkahan hidup lenyap bersamaan dengan hilangnya keridhaan Allah. Maksiat benar-benar membawa petaka bagi pelakukanya. Kemulyaan diri akan pergi bersamaan dengan maksiat yang dilakukan. Kekhusyu’an tak akan menyertai orang yang gemar berbuat dosa. Dosa itu mengundang kegundahan hati. Maksiat mengundang keresahan hati. Maksiat menumpulkan pikiran. Dosa melenyapkan kasih sayang dan kelembutan. Benar-benar dosa dan maksiat menjadi sumber kemalangan diri.

Saat manusia melakukan dosa, iman seseorang jatuh pada derajat yang paling rendah. Ketika seseorang berzina, imannya telah dikalahkan oleh kekuatan nafsunya, hingga nasehat-nasehat iman tak dihiraukan. Ketika ia mencuri, imannya melemah dan dengan mudah dibelenggu oleh nafsu dan bisikan setan, hingga seruan Ilahi tak didengarkan. Inilah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam salah satu hadits Beliau: Nabi SAW bersabda:

عن إبى هريرة أنّ النبي صلى الله عليه وسلم قال : لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ، لاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، لاَيَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَ التَّوْبَةُ مَعْرُوْضَةٌ بَعْدُ. رواه مسلم.

“Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang pezina di kala ia berzina, dan tidak sempurna iman seorang pencuri di kala ia mencuri, dan tidak sempurna iman seorang pemabuk di kala ia minum khamer; Sedangkan pintu taubat senantiasa terbuka sesudah itu.”

(HR. Muslim, bab Iman)

Dosa adalah perbuatan yang meninggalkan keresahan dan ia tak ingin orang lain melihatnya. Dosa menimbulkan penyesalan dan kegelisahan walau pun ia mendapatkan fatwa atau nasehat. Ini berarti dosa itu tidak bisa hilang dengan fatwa atau nasehat, tetapi dapat hilang dengan taubat yang diterima Allah. Jika Allah berkenan memberi ampunan atas kekhilafan hamba-Nya, tentu ia mendapat anugrah yang besar. Memang pada dasarnya, manusia itu tempat salah dan lupa. Tetapi orang yang paling baik adalah orang yang menyegerakan bertaubat dari dosa dan maksiat. Nabi SAW bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خّطَّاءٌ وَخَيْرَ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابِيْنَ.َ

“Setiap anak cucu Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan).”

(HR. Al-Dailami).

Allah SWT berfirman dalam al-qur’an surat al-Nisa’ ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوْءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُوْرًا رَحِيْمًا. النساء 110

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. An-Nisa’ : 110).

Banyak berbuat dosa dan maksiat menjadikan diri fakir. Keberkahan riski menjauh dari hidupnya. Bermacam-macam masalah menghampiri hidupnya. Terasa hidup penuh gejolak yang bisa tenang. Dosa dan maksiat memanggil bencana dan murka Allah. Tidak sedikit kaum yang dibinasakan oleh Allah lantaran dosa-dosa yang gemar mereka lakukan. Bahkan mereka tidak menghiraukan seruan para utusan Allah. Allah berfirman:

فَأَهْلَكْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِيْنَ.

“Kemudia kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan

Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.”

(QS. Al-An’am:6).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam surat al-‘ankabuut ayat 40

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ،فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَ مِنهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا، وَمَا كَانَ الله ُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَظِلِمُوْنَ. العنكبوت :40

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan karena dosanya, maka di antar mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka

ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada

yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak

hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah

yang mmenganiaya diri mereka sendiri.”

(QS.Al-Ankabuut:40).

Allah juga berfirman dalam surah Al-An’am ayat 120 yang berbunyi

إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْسِبُوْنَ اْلإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوْا يَقْتَرِفُوْنَ.

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa, mereka itu akan

dibalasmenurut apa yang meeka lakukan.”

(QS. Al-An’am : 120).

Allah berfirman:

“Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka baginya

disediakan api neraka, di dalamnya mereka kekal selamanya.”

(QS. Al-Jin:23)

Nah, jelaslah bagi kita bahwa dosa dan maksiat menyebabkan kemurkaan Allah. Wujud dari kemurkaan Allah adalah ditimpakan kepada mereka bencana dan kerusakan di muka bumi dan di sediakan azab yang pedih di akhirat kelak. Tentu semua orang muslim menghendaki kasih sayang Allah bukan kemurkaan-Nya. Rahmat dan ridha-Nya yang mendasari semua aktivitasnya. Bukan azab dan siksa tujuan akhir hidupnya. Mustahil orang yang menghendaki rahmat dan ridha Allah, sedang ia tenggelam dalam maksiat dan dosa. Mustahil ia selamat dari siksa dan azab, sedang ia mengundangnya dengan gemar berbuat maksiat dan dosa. Ingin rahmat Allah jauhi dosa. Ingin ridha Allah jauhi maksiat. Jika dosa dan maksiat itu telah berhasil dia jauhi, maka Allah akan selalu bersama dirinya. Allah akan mengabulkan permintaannya. Allah akan memberi pertolongan saat dia lemah dan tak berdaya. Allah curahkan riski dan anugrah saat ia membutuhkannya. Kesucian diri dari dosa dan maksiat menjadi sebab seorang hamba dekat dengan Allah. Jika seorang hamba 24 jam mampu menjaga diri dari dosa dan maksiat, insyaallah Allah akan bersamanya selama 24 jam pula. Kedekatan hamba bergantung kegigihan hamba menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dosa.

Kita sadar bahwa kita tidak bisa menjamin diri ini terlepas dari dosa dan maksiat. Karena memang diri ini lemah dan tempat salah dan lupa. Karena itu, hanya penyerahan diri mohon perlindungan kepada Allah, agar kita terjaga dari perbuatan dosa. Permohonan perlindungan diri dari dosa dan maksiat yang dilakukan secara terus menerus, akan menjadikan kita masuk dalam penjagaan Allah. Penjagaan dan perlindungan Allah akan diberikan kepada hamba yang memintanya. Jika ini yang kita lakukan insyaallah hidup kita berada dalam perlindungan-Nya. Di samping ini yang kita lakukan, hendaknya kita terus bertaubat kepada Allah SWT. Taubat membuat sang pendosa menjadi kekasih Allah. Taubat memuliakan orang yang terhinakan. Taubat mengangkat derajat hamba ke tempat yang tertinggi. Taubat menyebabkan Allah menurunkan rahmat-Nya. Taubat dapat menghapus kesalahan dan kekhilafan hamba. Dua hal yang penting agar kita selalu dapat bersama Allah, yaitu taubat dari dosa dan mohon perlindungan dari perbuatan dosa serta perlindungan dari bisikan setan untuk berbuat dosa. Semoga Allah berkenan menjaga kesucian kita dan terus memberi kita petunjuk-Nya. Amin. Wallahu a’lam.

 

 

4 responses »

  1. el-Faqir says:

    Subhanallah…Walhamdulillah…Walaa ilaha illallahu..Allahu Akbar…
    Ampuni dosa-dosa Kami ya Rabbi…

  2. Lukmandiansyah (ctp-cargill) says:

    Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.

    Semoga hamba tergolong dari orang yg selalu ingat kepadamu ya Allah…Amin…Amin y’rab…

  3. age says:

    semoga aku terampuni

    • annajib says:

      Amin ya robbal alamin. rahmat dan keberkahan hidub bagi mereka yang selalumensucikan diri di sisi Allah. Tidak ada dosa yang tidak terampuni jika dia bertaubat kepada Allah SWT.Kecuaali dosa syirik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s