O. Cukup Dengan Riski Halal

Makanan sehat dan bergizi memang penting bagi kesehatan tubuh. Namun, Islam mempunyai syarat lain yang perlu diperhatikan, selain menyehatkan dan bergizi yaitu setiap yang kita konsumsi hendaknya yang halal. Halal di sini, halal makanannya dan halal cara memperolehnya. Makanan atau apa pun yang kita nikmati bersumber dari yang halal, akan menjadikan iman bertambah kokoh, hati bening lemah lembut, pikiran menjadi tajam dan mendalam, badan ringan cekatan beribadah, dan do’a kita mudah dikabulkan oleh Allah. Riski halal mendorong seseorang untuk bertaqwa kepada Allah. Karena itu, mencari penghidupan dengan cara yang halal di sukai Allah. Mencari penghidupan dengan cara bathil dan haram dibenci Allah. Riski haram menjauhkan diri dari Allah. Riski halal mendekatkan diri kepada Allah.

Orang yang jika makan sembarangan tidak memperhatikan halal haram, dia semakin jauh dari Allah. Tenaga yang dimilikinya memompa untuk bermaksiat kepada Allah. Makanan haram menjadikan kedua mata senang menyaksikan perkara haram. Apa pun yang terlihat oleh mata, selalu terfokus pada yang haram. Sesuatu yang haram menjadikan kedua kakinya ringan menuju tempat-tempat maksiat. Tangan dan anggota tubuhnya lekat dengan maksiat. Tubuh berat untuk beribadah. Hati gelap dari sentuhan cahaya Ilahi. Pikiran tumpul dari hidayah dan ilmu Allah. Sesuatu yang haram hanya dapat memuaskan dan menggemukan nafsu. Perintah Allah dan Rasul-Nya diabaikan. Larangan-larangan menjadi kegemarannya. Dan doanya terhalang untuk sampai kepada Allah.

Harta haram benar-benar menjadikan diri ini menjadi sosok yang dibenci Allah. Bagaimana tidak? Jika makanannya haram, maka darah yang mengalir, peluh yang bercucuran, pikiran, lintasan hati, dan semua potensi yang ada pada dirinya dipompa oleh tenaga yang haram. Otomatis jiwa raganya akan nyaman berendam dalam perkara haram. Seperti ikan berada di air. Dia gerah melakukan ketaqwaan.

Ada keluarga yang sehari-hari mengkonsumsi harta haram. Seorang ayah adalah kepala keluarga yang membimbing anak istrinya. Di pundaknya beban tanggung jawab di hadapan Allah. Sebagai kepala rumah tangga ia berkewajiban mencari nafkah keluarganya. Karena ia memang suka mengkonsumsi yang haram, akhirnya nafkah yang diberikan kepada keluarganya juga harta haram. Pertama, ia mencuri air PDAM. Padahal air merupakan kebutuhan yang sangat penting. Coba kita renungkan bersama! Bila airnya haram, maka masakannya dimasak pakai air haram. Mencuci pakaian, peralatan dapur, membersihkan rumah, mandi, membersihkan kendaraan, dan membersihkan perabotan apa pun dengan air haram. Bagaimana bajunya bisa suci? Bagaimana hatinya menjadi tenang? Bagaimana rumahya menjadi tempat yang teduh dan sejuk? Bagaimana baju yang melekat bisa nyaman untuk beribadah? Kalau air yang digunakan adalah air haram hasil curian. Kedua, listrik ia mencuri milik PLN. Dia terangi rumahnya dengan listrik haram. Dia nyalakan TV, Vidio, radio, setrika, kipas angin, megicom, dan apa pun dengan listrik yang haram hasil curian juga. Sehingga, ia jadikan keluarganya menjadi keluarga yang mengkonsumsi harta haram. Belum lagi, dia gemar menyabung ayam, berjudi, berzina, mabuk-mabukan, minum ganja, bertenkar, mencuri, dan lain sebagainya. Hingga anak sampai cucunya suka melakukan perbuatan yang dilakukan olehnya. Seperti berzina dan mabuk-mabukan. Oleh karena itu, mereka adalah keluarga yang jauh dari rahmat Allah. Mereka tinggalkan semua perintah Allah dan gemar melakukan larangan Allah. Hati mereka tertutup dosa dan maksiat. Hingga sikap dan prilaku mereka menunjukkan kesombongan dan keangkuhan manakala berada. Menyusahkan dan menyulitkan setiap orang yang kenal dengan mereka. Kemana anggota keluarganya berhenti, disitu dia membuat masalah. Bakhil dan pelit jika dia dalam keadaan berada. Berhutang kesana-kemari dan enggan mengembalikan pinjamannya. Mereka gantungkan hidup pada orang lain seperti benalu. Keresahan dan penderitaan selalu menghantui keluarga mereka. Inginnya mereka bebas dari penderitaan itu, justru mereka melakukan penyebab penderitaannya. Mereka ingin bebas dari kekalutan, dia ajak keluarganya minum khamer bersama-sama. Mereka ingin usaha dan pekerjaannya sukses dan lancar, dia datangi para normal dan mereka ikuti petunjuknya. Sungguh sesat dan menyesatkan apa yang mereka lakukan. Itulah salah satu keluarga yang gemar mengkonsumsi makanan haram. (Tahun 2006.).

Karena begitu besar pengaruh makanan dan minuman terhadap kualitas iman seseorang, hingga Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau bersabda:

يَا عَلِى : مَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ مَاتَ قُلْبُهُ، وَخَفَّ دِيْنُهُ، وَضَعُفَ يَقِيْنُهُ، وَحَجِبَ الله ُ دَعْوَاتُهُ، وَقَلَّتْ عِبَادَتُهُ. (فى كتاب المنح السنية: ص:2).

“Hai ‘Ali barang siap yang memakan makanan yang haram, maka mati hatinya, ringan agamanya, lemah kyakinannya, do’anya terhijab, dan sedikit ibadahnya.” (kitab Minahus Saniyah h.2)

Demikian pula orang yang mengkonsumsi makanan atau minuman yang subhat (samar), hatinya akan cenderung pada perbutan yang haram, samar agamanya, dan jahat hatinya. Pesan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib.

يَا عَلِى : مَنْ أَكَلَ الشُّبُهُاتِ اِشْتَبَهَ عَلَيْهِ دِيْنُهُ وَ أَظْلَمَ قَلْبُهُ.

“Hai ‘Ali: siapa yang makan makanan subhat, akan samara agamanya dan jahat hatinya.” (kitab Minahus Saniyah h.2).

Begitu nampak pengaruh makanan haram dan subhat bagi kelangsungan hidup manusia. Rasanya sulit menjadi orang yang beriman dan bertaqwa, jika apa yang dikonsumsi dan dipergunakan dalam hidupnya masih berbalut perkara haram. Bahkan perabotan di kantornya dia ambil untuk dijadikan inventaris pribadinya. Halal haram soal makan dan minum menjadi pilar seseorang dalam beragama. Sembarangan menikmati makanan dan minuman tanpa diperhatikan halal haramnya, berakibat pada kualitas iman dan kebersihan hatinya. Biasanya orang yang sering terjebak pada makanan yang haram karena ia lengah terhadap akibat yang ditimbulkannya. Dan ia lupa kalau Allah terus menyaksikan perbuatannya. Yang penting nafsunya terpuaskan. Sembrono mengkonsumsi makanan menyisakan keresahan dan penyesalan. Ingatlah, bahwa Allah mengetahui apa yang kita kerjakan. Hati hati dalam menikmati makanan akan menghantarkan seseorang pada keberkahan hidup.

Orang yang beriman kepada Allah SWT enggan mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah. Seribu kali ia berpikir jika di hadapkan perkara yang haram. Ia enggan menikmati makanan yang bukan miliknya. Ia malu pada Allah menggambil yang bukan haknya. Ia berusaha memenuhi hajat hidupnya dengan hasil keringat sendiri. Ia cari penghidupan dengan tetap menjaga kesucian lahir batihn. Ia yakin bahwa jaminan riski telah Allah tetapkan atas semua hamba-Nya. Berusaha dan bekerja hanya salah satu syarat untuk menjemput karunia Allah yang telah Allah sediakan untuknya. Karena itu, ia selalu hati-hati mencari riski dan hati-hati membelanjakan riskinya. Ia tahu bahwa banyak orang benar dalam mencari riski, tetapi salah membelanjakannya. Atau sebaliknya, banyak yang salah mendapatkan riski, dipergunakan riski itu untuk kebaikan. Allah tidak mau menerima, kecuali perkara yang asalnya baik dan dibelanjakan secara baik. Orang yang beriman tidak mau di rumahnya ada barang yang bukan miliknya, walaupun sehelai kertas sekali pun. Ia enggan menyuapi anak istrinya dengan harta haram yang akan berubah menjadi api membera. Tampak olehnya bahwa harta haram adalah bara api. Ia tak ingi dirinya, istri dan anaknya makan api yang membara, memakai baju bara api, meminum air yang mendidih, menggunakan perabot yang panas membara. Itulah sebabnya, orang yang beriman selalu ingat akan pengawasan Allah. Tiada makanan dan minuman yang ia konsumsi kecuali yang Allah halalkan. Hingga hatinya bening dapat menangkap bias cahaya Allah, menangkap kebesaran Allah, ibadahnya berbobot, agamanya kokoh, do’anya mustajabah, memancar dari dirinya akhlakul karimah. Inilah yang digambarkan Rasulullah SAW saat berpesan kepada menantu beliau, yaitu Ali r.a.

يَا عَلِى : مَنْ أَكَلَ الْحَلاَلَ صَفَا دِيْنُهُ، وَرَقَّ قَلْبُهُ، وَلَمْ يَكُنْ لِدَعْوَتِهِ حِجَابٌ.

“Hai “Ali, barang siapa yang makan makanan halal, maka jernih agamnya, lemah lembut hatinya, dan tidak ada hijab bagi do’anya.” (ibid.)

Dengan harta halal dan mencukupkan diri dengan riski halal, maka hati akan mudah menerima petunjuk Allah. Ia mudah menangkap rahasia keagungan Allah di balik segala ciptan-Nya. Pikiran hanjiwanya selalu terpaut kepada Allah. Senang dan rela dengan keputusan Allah. Bahagia saat beribadah memuji Allah. Malu saat menerima riski Allah. Allah akan menyertai hidup hamba yang cukup dengan riski halal. Ia akan bersama Allah selama ia tetap mengkonsumsi yang halal. Makanan halal menjadikan hamba kuat beribadah dan gemar berbuat kebaikan. Halal melembutkan hati yang kaku. Harta halal dapat mendekatkan diri hamba kepada Allah. Orang yang menjaga kehalalan apa yang ia nikmati, ia senantiasa bersama Tuhannya. Selam ia cukupkan diri dengan yang halal, maka selama itu pula akan bersamanya. 24 jam ia jaga diri dan keluarganya dari yang haram, 24 jam pula Allah bersamanya. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita, agar kita merasa cukup dengan harta haram dan merasa cukup dengan taat kepada Allah.

اَللَّهُمَّ أَغْنِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَنْ مَنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupkan bagi kami riski halal dari pada yang haram, cukupkan bagi kami taat kepada-Mu dari pada mendurhakai-Mu, dan cukupkan bagi kami akan karunia-Mu dari pada selain-Mu.”.

P. Akrabkan Diri Dengan Al-Qur’an

Al-qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Al-qur’an undang-undang kaum muslim. Al-qur’an dasar hidup orang yang beriman. Tanpa al-qur’an hidup akan tersesat sejauh-jauhnya. Manusia diciptakan menurut fitrahnya. Akal dan hati yang bermakmum pada al-qur’an, akan membimbingnya pada jalur yang sebenarnya. Nafsu dan setan menghendaki manusia keluar dari tuntunan al-qur’an. Al-qur’an pelita kehidupan yang membimbing pada jalan yang lurus. Allah berfirman: “Sesungguhnya al-qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus.” (QS.Al-Isra’ : 9). Tanpanya hidup menjadi gelap. Tidak sedikit orang yang terjebur ke dalam jurang kehancuran, dikarenakan mengabaikan tuntunan al-qur’an. Ia menerangi hati yang gelap. Tidak keragu-raguan akan kebenaran di dalannya. Tiada sedikit pun kebatilan di dalam al-qur’an. Siapa yang mengikuti al-qur’an, akan terhindar dari kebathilan. Bahkan hidup akan menjadi berkah meraup rahmat Allah, jika hidup seorang hamba akrab dengan al-qur’an. Allah berfirman: “Dan ini (al-qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi.” (QS. Al-An’am: 92).

Insan yang terbaik adalah orang kontinyu mmpelajari al-qur’an dan brusaha mengajarkannya. Kebaikan akan bersemi dalam hidup orang yang memuliakan al-qur’an. Sabda Rasulullah saw.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ. رواه البخاري.

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Al-qur’an akan menyelamatkan hamba saat huru-hara akhirat. Orang yang bersahabat dengannya berada dalam naungan Allah. Bila seseorang enggan mengakrabkan diri dengan al-qur’an dan tak mau berpedoman dengannya, maka ia seperti berjalan tanpa arah tujuan atau berjalan dalam kegelapan tanpa cahaya. Hidup tanpa petunjuk akan tersesat. Jika kesesatan dan kegelapan menyelimuti hidup seseorang, maka sulit untuk menggapai kebahagiaan. Kesusahan yang terjadi, keresahan yang menerpa, kegalauan yang ia alami, masalah yang muncul, boleh jadi sebab ia berjalan tanpa petunjuk al-qur’an. Seringkali seseorang merasa sudah benar ternyata ia keblinger. Seringkali ia merasa sudah lurus ternyata ia bengkok. Seringkali ia merasa telah menanam kebaikan, ternyata ia akan memetik keburukan. Seringkali ia memburu kebahagiaan, malah penderitaan yang ia tanam. Begitulah orang yang tidak mau hidup di bawah naungan petunjuk al-qur’an. Orang yang jauh dari al-qur’an, ia jauh dari Allah. Orang yang menjadikan kalam Allah sebagai teman, Allah selalu dekan bersamanya.

Coba kita lihat contoh-contoh orang yang akrab dengan al-qur’an. Seperti Imam Hanafi seorang alim ulama’ yang termasyhur di semenanjung jazirah Arab yang memiliki banyak ilmu, kewibawaan yang muncul dari budi mulia, kedermawanannya luar biasa. Beliau hafal alqur’an diusia belia. Karyanya banyak dan berguna hingga sekarang. Ia sangat taat kepada Allah. Tawadu’, wara’ dan zuhud menghiasi kepribadiaannya. Di malam hari ia dirikan shalat malam dan membaca al-qur’an hingga khatam. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat akrab dengan al-qur’an. Karunia dan rahmat Allah dekat menyertai hidup beliau karena ia dekat dengan al-qur’an.

Imam Maliki, dari kecil suka membaca al-qur’an hingga hafal. Beliau belajar pada para fuqaha’ dan ahli-ahli agama di Madinah. Pikirannya cerdas, beliau himpun berbagai ilmu, sampai ia mendapat sebutan Imam Malik. Beliau seorang yang berbudi tinggi, berakhlak mulia, sopan santun, lemah lembut, tawadu’, pendiam, suka membantu fakir miskin, ibadahnya luar biasa, dan akrab dengan al-qur’an. Allah mengangkat derajatnya karena begitu dekat dengan firman-Nya.

Imam Syafi’i hafal al-qur’an di usia sembilan tahun. Pada malam hari beliau gunakan untuk beribadah kepada Allah. Ia sedikit tidur. Kebiasaan sehari-hari membaca, menulis, dan shalat malam. Imam Syafi’I menghatamkan al-qur’an dua kali sehari, yaitu siang sekali dan malam sekali.

Imam Hambali mereka telah menghafal al-qur’an diusia dini. Putra Imam Hambali yang bernama Abdullah berkata: “Ayahku tiap hari membaca sepertujuh dari al-qur’an dan tiap tiap tujuh hari khatam al-qur’an sekali, tiap-tiap tujuh malam khatam al-qur’an pula sekali; yaitu dibaca dalam shalat malam, tidak termasuk yang dibaca di siang hari. (Mahyuddin Ibrahim. H.152).

Mereka semua menjadi imam madzhab kaum muslimin sedunia, karya-karyanya menjadi rujukan ulama zaman sekarang, budi mulia melekat pada diri mereka, semua waktunya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah, kebesaran dan keagungan gelar penghormatan tertuju kepada mereka, itu karena mereka sangat akrab dengan al-qur’an. Demikian pula dengan para sahabat Nabi saw, mereka sangat akrab dengan al-qur’an. Hingga zaman mereka menjadi zaman yang terbaik dari semua zaman. Lebih-lebih dengan Rasulullah SAW beliau tiada hari yang beliau lalui –setelah wahyu turun- kecuali di iringi dengan tilawah al-qur’an. Bahkan al-qur’an terwujud dalam prilaku dan sunah beliau. Kebaikan akan bermunculan pada orang yang gemar membaca al-qur’an.

Memperbanyak membaca al-qur’an merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Rumah yang banyak dibacakan al-qur’an, maka akan banyak kebaikan yang ada di dalam rumah itu dan memberi kelapangan pada penghuninya. Sebaliknya, rumah yang tidak pernah dibacakan al-qur’an, maka akan banyak keburukan di rumah itu dan menyempitkan penghuninya. Sabda Rasulullah SAW:

أَكْثِرُوْا مِنْ تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ فِى بُيُوْتِكُمْ، فَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ لاَ يُقْرَاُ فِيْهِ الْقُرْآنُ يَقِلُ خَيْرُهُ وَيَكْثُرُ شَرُّهُ، وَيُضِيْقُ عَلَى أَهْلِهِ. رواه الدارقطنى عن أنس.

“Perbanyaklah membaca al-qur’an di rumah-rumah kalian, maka sesungguhnya rumah yang tidak dibacakan al-qur’an , sedikit kebaikannya,

banyak keburukannya, dan menyempitkan penghuninya.”

(HR. Darul Quthni dari Anas).

Al-qur’an akan menjadi juru penyelamat bagi orang yang gemar membacanya. Sabda Rasulullah saw:

اِقْرَؤُو الْقُرْآنَ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ.َ

“Bacalah al-qur’an, karena ia akan datang pada hari kiyamat

sebagai juru syafaat bagi pembacanya,”

(HR. Muslim).

Mudah-mudahan Allah berkenan memberi ma’unah kepada kita, sehingga kita dapat membaca, menelaah, mengkaji, dan mengamalkan al-qur’an dalam hidup kita. Dengan membiasakan diri dekat dengan al-qur’an akan tumbuh kecintaan terhadapnya. Cinta pada al-qur’an mendorong seseorang mencitai Allah. Akrab dengan al-qur’an merupakan bukti kedekatan kita dengan Allah. 24 jam kita lalui dengan mengkhususkan waktu untuk membaca al-qur’an, maka Allah akan mengucurkan rahmat-Nya kepada kita. Akrabkan diri dengan al-qur’an, insyaallah Allah akan dekat dan bersama kita selalu. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s