Q. Memperhitungkan Waktu

Waktu adalah masa di mana saat kita melakukan sesuatu. Waktu seperti pedang. Waktu akan selalu menebas usia manusia. Detik demi detik waktu terus berjalan. Ia tak pernah berhenti meskipun satu detik. Waktu yang telah berlalu tak akan kembali lagi. Waktu berjalan sangat pelan, tetapi pasti. Hingga banyak manusia yang mengira ia masih punya banyak waktu. Pada hal ia punya sedikit waktu yang tersisa. Demikian pula, apa yang telah kita lakukan tak akan dapat kita ulangi yang kedua kalinya. Waktu saksi bisu terhadap apa yang kita lakukan. Saat ini kita menjadi orang yang beruntung atau menjadi orang yang buntung, waktu yang tahu persis kelakuan kita. Kelakuan kita benar-benar baik atau buruk, akan di buktikan oleh waktu. Rugi orang yang punya banyak waktu, tapi sedikit kebaikannya. Untung orang yang punya banyak waktu dan ia mempergunakan waktu itu untuk meraih ridha Allah dan amal shaleh. Tak sedikit orang yang hidup menyia-nyiakan waktu. Ia biarkan begitu saja waktu berlalu dengan santainya. Ia isi waktu dengan perkara yang tak berguna untuk masa depannya. Yang paling parah lagi, jika tangki waktu di isi penuh dengan kelakuan buruk. Tapi hal ini, banyak yang tidak menyadarinya. Pada hal, andai kata ia tahu bahwa waktu sudah lelah berjalan dan berbalik menjadi saksi bagi kelakuannya selama di dunia, baru ia terbelalak dan menyesalinya.

Waktu terbagi menjadi tiga masa, yaitu waktu masa lampau; waktu sekarang yang sedang dialami; dan waktu yang akan datang. Tiga bagian waktu ini perlu kita perhitungkan keberadaanya, untuk mengetahui status dan identitas kita di dunia dan di akhirat nanti. Dengan memperhitungkan waktu, kita dapat menerka dan mengira-ngira apa yang akan kita alami dan apa yang akan di timpakan kepada kita, sekaligus kita dapat mengantisipasi kemungkinan buruk yang bakal terjadi dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan sejak dini.

Pertama; Waktu lampau adalah masa yang telah kita lewati dengan berbagai macam kelakuan. Renungan dan introspeksi diri terhadap waktu lampau berfungsi mereview kembali memori-memori masa lalu. Mungkin setelah melihat memori itu, ada orang yang tertunduk malu. Karena ternyata masa lalunya penuh dengan kemaksiatan dan noda-noda dosa. Perjalanan hitam menyelimuti masa lalunya. Dengan hitamnya masa lalu ada yang putus asa dan ada pula yang bertaubat bertekat untuk memperbaikinya. Yang putus asa adalah mereka yang merasa hidupnya tidak ada ruang yang terisi kecuali dengan keburukan. Mereka yang bertaubat adalah mereka yang yakin bahwa rahmat Allah lebih luas dari murka Allah. Mungkin juga, ada orang yang setelah melihat masa lalu, ia melihat waktunya banyak terisi dengan kebaikan, namun, hatinya khawatir amalnya tidak diterima Allah, hingga ia serahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada Allah. Ada juga yang melihat amalnya seimbang antara kebaikan dan keburukannya. Tetapi dia ia merasa rugi, karena ia yakin kejelekannya itu sudah pasti ia lakukan dan tercatat kejelekan di sisi Allah, sedangkan kebaikan yang telah ia lakukan belum tentu di terima sebagai amal kebaikan oleh Allah. Renungan-renungan tentang masa lampau ini menjadikan orang menyadari bahwa betapa berharganya waktu dan akan bertekat mengisi waktunya dengan amal yang Allah ridhai.

Kedua; Waktu sekarang adalah waktu yang sedang di jalani. Waktu sekarang akan berguna jika di disi dengan sesuatu yang berguna. Waktu sekarang akan terbuang percuma jika di isi dengan sesuatu yang sia-sia. Berharga atau tidak berguna waktu sekarang itu bergantung sejauh mana orang itu menghargai waktu. Ada orang yang menghargai waktunya dipergunakan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, hingga semua waktunya di isi dengan pekerjaan yang dapat mengahasilkan uang (time is money). Ada orang yang menhargai waktu dipergunakan untuk mencari kesenangan. Ia berprinsip bahwa hidup cuma sekali dan waktu tak akan kembali. Karena itu, hidupnya dijadikan untuk bersenang-senangdan berfoya-foya belaka. Kepuasan nafsu menjadi tujuan utama. Orang seperti ini tak perduli pada akibat yang akan dialamai sesudah mati. Yang terpenting adalah senang, sedangkan urusan belakangan. Perintah Allah sering ditinggalkan dan bisikan setan dikerjakan. Sungguh orang ini rugi dalam mempergunakan waktu dan akan mendapatkan penyesalan yang tak berkesudahan. Ada pula orang yang menghargai waktu untuk mencari kedudukan dan ketenaran diri. Ke mana ia pergi, di mana ia berada, kapan pun ia terjaga, dan apa pun pekerjaannya semua waktunya dipergunakan untuk mendapat kemasyuran nama. Di sisi Alla ia hina, walau pun ia terknal di mata manusia.Waktu yang ia lalui hilang percuma dan sia-sia tanpa makna yang berguna.

Di sisi lain ada orang yang acuh tak acuh terhadap waktu. Bahkan ia lupa kalau Ia mempunyai waktu. Ia tak berpikir kalau waktu itu sangat berharga. Ia tak perduli kalau bahagia atau duka cita yang akan ia alami sangat tergantung pada sejauh mana ia menhargai waktu dan bagaimana ia mengisinya. Tak heran, jika waktu demi waktu ia jalani dengan perkara yang sia-sia dan perbuatan yang percuma. Permainan dan sendau gurau menjadi kebiasaan dan hobinya. Lupa kalau setiap amal dan detakan waktu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.

Adapun bagi orang yang beriman, waktu sangat berhargai dan berguna. Waktu adalah modal hidup yang cuma sekali ia miliki. Waktu tak akan mundur kebelakang walau sedetik pun. Dan ia tahu setiap detik waktu berjalan akan menjadi saksi bisu di hadapan Allah akan perbuatannya. Oleh karena itu, ia menej dengan benar waktu yang ia punya serta di isi dengan amal shaleh yang membawa kepada keridhaan Allah. Ia pergunakan waktu yang sedang ia jalani dengan sebaik mungkin. Mulai tidur hingga tidur lagi –baginya- jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia tanpa menghasilkan pahala. Sehingga dengan memperhitungkan waktu inilah, ia jadikan semua potensi yang diberikan Allah kepadanya, akan di pergunakan untuk menyongsong keridhaan Allah. Sungguh bernilai waktu baginya, hingga dipergunakan dengan sesuatu yang berguna, agar waktu yang ia jalani benar-benar berharga di sisi Allah. Ia merasa rugi jika ada sebagian waktunya terbuang sia-sia. Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, seusai melakukat ketaatan kepada-Nya. Misalnya, setelah membaca al-qur’an, ia sangat bersyukur karena dengan izin Allah ia dapat mempergunakan waktunya untuk membaca al-qur’an. Seraya berkata: “Al-hamdulillah, terima kasih ya Allah, dengan ijin-Mu aku dapat membaca al-qur’an, terimalah ia di disi-Mu sebagai amal ibadah.”. Setelah besedekah kepada anak yatim, ia sangat bersyukur bahwa sebagian waktu yang telah dijalaninya dapat dipergunakan menyantuni anak yatim, seray ia berkata: “Al-hamdulillah, terima kasih ya Allah, dengan ijin-Mu hamba dapat memunaikan perintah-Mu yaitu menyantuni anak yatim, terimalah ia sebagai amal ibadah.” Begitu seterusnya. Seakan-akan ia tak rela kalau waktunya terbuang begitu saja tanpa amal shaleh. Ia jadikan waktunya untuk Allah dan beribadah kepada-Nya. Karena, memang waktu milik Allah, kemudian dititipkan kepadanya sebagai ujian, dan nati akan diminta tanggung jawab, bagaimana ia mempergunakan waktunya. Karena itulah, ia bertekat dan berikrar bahwa saya harus berbuat yang terbaik menurut Allah, walaupun itu amalan rendah di mata manusia. Jangan sampai ada waktu yang enyebabkan Allah murka kepadanya. Ia jadikan waktunya untuk bersama Allah.

Ketiga; Waktu yang akan datang adalah waktu yang belum di alami. Ia seperti kertas yang masih putih bersih. Kertas putih yang bersih ini akan terisi dengan dengan beraneka macam goresan bergantung dengan kesiapan seseorang untuk mengisinya. Hingga ada istilah “plan your work, work your plan”. Perencaan yang matang menjadikan orang dalam beramal lebih terarah dan terprogram. Seyogyanya, semua program kerja kita bisa membawa guna bagi kita dan orang lain dan juga mendapat ridha Allah. Sehingga, apa yang kita lakukan nantinya bisa bermanfaat di dunia dan berpahala di akhirat. Namun, bagi orang yang beriman dilarang berandai-andai dengan waktu mendatang, karena ia tidak tahu kalau waktunya tinggal lima menit lagi atau lebih pendek dari itu. Yang paling penting adalah ia mempergunakan waktu yang sedang ia jalani dengan sebaik mungkin.

Tidak sedikit orang yang benar-benar mengalami kerugian karena tidak memperhatikan fungsi waktu baginya. Hingga ada orang yang berusia 60 tahun, ia baru ingat kepada Allah. Ada orang yang tertimpa musibah, ia baru ingat Allah. Ada orang yang jatuh miskin, ia baru rajin shalat. Ada orang yang tertimpa berbagai masalah, baru sadar bahwa ia banyak melakukan dosa. Karena itu, Allah SWT berfirman dalam al-qur’an bahwa manusia itu benar-benar dalam kerugian yang besar, kecuali orang yang beriman, beramal shaleh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Artinya orang yang menggunakan waktunya untuk beramal shaleh dengan dasar iman, serta terus menerus saling nasehat menasehati kebenaran. Allah berfirman:

وَ الْعَصْرِ ﴿1 ﴾ إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ ﴿ 2 ﴾ إِلاَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ةَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ . ﴿ 3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supay mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS.Al-“ashr: 1-3)

Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa betapa pentingnya memperhitungkan waktu untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Dengan, memperhitungkan waktu lampau, waktu sekarang, dan dan waktu yang akan datang seseorang dapat menentukan sikap terbaik untuk mengisi waktu yang sedang ia jalani dan waktu yang akan ia jalani. Bahkan, ia dapat menjadikan semua waktunya untuk bersama Allah. Tidak ada waktu yang berlalu kecuali untuk mengais rahmat dan ridha-Nya. Semoga kita semua dijadikan orang yang pandai menghargai waktu dan tidak tergolong orang yang rugi sebab menyia-nyiakan waktu. Amin. Wallahu a’lam.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s