TIGA BULAN KANTONG KOSONG

 

Seorang pegawai telkom kota Malang bernama Purnomo. Ia dikenal oleh seman dan pimpinannya sebagai seorang karyawan yang rajin dan tekun. Namun, dia memiliki sifat yang agak keras, kata-kata yang kasar dan emosional, sehingga ia dijauhi oleh banyak orang. Pada saat emosi dan amarahnya memuncak anak-anak di rumah tidak luput dari pelampiasan amarahnya. Purnomo memiliki tiga orang putra, seorang istri dan ibunda yang lanjut usia. Adik-adiknya tergolong orang yang ekonomi mapan. Semua telah tuntas menyelesaikan strata I atau sarjana.

Purnomo orang yang cukup dan kebutuhan ibunya ditanggung juga olehnya. Tiap kali berangkap kerja selalu terdengar suara keras dengan istri dan anak-anaknya. Keluarga Purnomo kerat kali berselisih dan bersilang pendapat.

Suatu ketika ibu Purnomo pergi kesaudaranya di Blitar tanpa berpamitan kepada keluarga Purnomo. Akibatnya Purnomo gelisah kesana-kemari mencari sang ibu. Dia bertanya kepada tetangga, adik-adiknya, paman, dan setiap orang yang dijumpainya. Sungguh bingung dan emosinya memuncak atas kepergian ibunya. Pelampiasannya istri dan anaknya mendapat omelan darinya dan barang-barang yang ada di sekitarnya pun turut dibantingnya.

Memang sebagai seoarang anak pasti akan cemas jika ibunya tiba-tiba pergi dari rumah tanpa ada yang mengetahuinya. Hawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya pada ibunya. Ahirnya, Purnomo dengah hati kesal dan memendam amarah menanti kedatangan ibunya di rumahnya. Setelah sore hari menjelang maghrib ibunya turun dari angkutan umum dengan wajah ceria. Ia tidak tahu kalau Purnomo telah menunggu kedatangannya. Ia pun mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumah. Diruang tamu Purnomo dengan nada keras berkata: “Bu duduk!, Ibu dari mana saja seharian?” Ibunya menjawab ketakutan: “Tadi aku baru dari rumah pamanmu di Blitar, saya sudah lama tak ketemu pamanmu”. Bu kalau pergi kemana saja itu berpamitan dulu sama saya, adik, atau salah satu keluarga biar kita semua itu tidak bingung” Ucap Purnomo dengan nada keras. Wes pokoke aku ora perduli lek ono opo-opo ambek Ibu, awas lek lungo ora pamitan karo aku.” dengan memukul meja sekeras-kerasnya. Serentak Ibu itu gemetar hebat atas perlakuan anaknya. Tanpa sepatah kata pun Ibu itu langsung menangis. Purnomo berkata: “ngausah nangis Ibu lek salah .. yo salah.” Lalu Purnomo berlalu dari hadapan Ibunya. Ibunya terus menangis dan menyesali perbuatanya. Namun, di dalam hatinya tersimpan sakit hati kepada Purnomo.

Esok harinya Purnomo pergi ke kantor dimana ia bekerja. Purnomo heran dia merasa hatinya gelisah dan pekerjaannya selalu ada permasalahan. Berhari-hari Purnomo rasakan hidupnya penuh problem, uangnya habis, anaknya tertangkap polisi karena sebagai pengguna dan pengedar sabu-sabu. Bahkan, selama tiga bulan Purnomo tidak memeagang uang. Kantongnya kosong tak berisi uang sepeserpun. Hingga bensin dan rokok harus meminta kepada istrinya.

Di tengah-tengah kekalutan itu Purnomo tidak berdaya dan tidak tahu apa yang haru diperbuatnya. Bisikan setan deras berusaha menguasai diri Purnomo. Dia pun berjalan tanpa arah. Ahirnya dua kakinya melangkah ke salah satu masjid di dekat kantornya dan duduk di salah satu tiang masjid sambil pikirannya melayang-layang. Dan itu dilakukan Purnomo hampir satu bulan. Tiba-tiba datang orang tua yang menghampiri Purnomo yang sedang duduk sambil berkata kepada Purnomo: “Kenapa susah-susah, susah itu dibuat sendiri, pekerjaan mapan, rumah besar, kendaraan bagus kok masih susah, bertaubatlah dan minta maaflah kepada Ibumu!”. Lalu orang itu berlalu begitu saja. Dan Purnomo mencari-cari orang tadi tetapi tidak menemukannya.

Sepulang dari kantor Purnomo langsung menemui Ibunya dan bersimpuh meminta maaf atas kelakuan kasar terhadapnya. Dan Ibunya mau memberi maaf kepada Ibunya. Sejak kejadian itulah Purnomo bersumpah untuk tidak durhaka kepada ibunya.

Memang durhaka kepada orang tua akan mengundang malapetaka baik dirinya atau keluarganya. Berbakti kepada orang tua akan mengundang rahmat Allah dan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena itu, orang tua itu orang yang sangat berjasa kepada putranya tanpa pamrih apa-apa. Karena itu, manakala orang tua lanjut usia berada dalam pemeliharaanmu, maka janganlah berlaku kasar dan semena-mena terhadap orang tuanya. Ingatlah!, keridhaan Allah terletah dalam keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan orang tua.

Berbaktilah kepada orang tua sebagaimana mereka mendarmakan baktinya kepadamu!

Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi kamu sewaktu kecil.

Penuhilah kebutuhannya dengan tulus ikhlas seperti mereka tak pernah menuntut balasan darimu atas semua yang mereka berikan kepadamu.

( Kisah ini adalah kisah nyata yang disampaikan oleh orang yang bersangkutan -bukan nama aslinya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s