<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

KENDARAAN KE BAITULLAH

Seorang pemuda gagah naik unta di padang pasir yang terik. Unta itu masih muda dan kuat. Cocok untuk menempuh perjalanan jauh. Pemuda itu ke Mekkah. Di tengah padang pasir, ia melihat seseorang lelaki tua sedang berjalan kaki sendirian. Sang pemuda itu heran bukan main melihat orang tua berjalan sendirian di padang pasir yang luas seolah tanpa batas itu.

“Orang tua itu pasti gila,” pikir si pemuda. “Berjalan kaki sendirian di padang pasir begini, apa mau cari mati? Dia bisa tersesat atau mati kepanasan dan kehausan.”

Pemuda itu ingin tahu dengan menghampiri orang tua itu. Ia menghentikan untanya di dekat lelaki tua itu dan segera turun.

“Wahai orang tua,” panggilannya. “Bapak hendak kemana?”

“Insya Allah aku akan ke Baitullah,” jawab orang tua itu. Baitullah adalah ka’bah di Mekah. Orang pergi ke Baitullah tentu akan melakukan thawaf. Pada musim haji, thawaf di ka’bah merupakan salah satu rukun haji. Saat itu musim haji. Si pemuda berunta itu pun akan menunaikan haji.

Masya Allah, Bapak ini bagaimana? Baitullah itu jauh sekali dari sini. Semua orangyang kesana naik kendaraan. Kalu bukan naik unta, ya kuda. Tidak berjalan kaki seperti Bapak. Bagaimana Bapak bisa sampai ke sana?”

“Aku juga berkendaraan,” Kata orang tua itu.

Si pemuda semakin yakin bahwa orang tua itu gila. Dia berjalan kaki, tapi merasa naik kendaraan. Kalau bukan orang gila, apa lagi?

“Bapak berjalan kaki,” Kata anak muda itu.

“Kau tidak melihat kendaraanku.” Pemuda itu makin kebingungan. Ah, dasar orang ila. Ada-ada saja, pikirnya.

“Kalau aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan yang bernama sabar. Jika jalannya mudah, mulus, dan datar, kugunakan kendaraan yang bernama syukur,” kata orang tua itu. “Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan yang bernama ridha. Jika aku tersesat atau menjumpai jalan buntu, kugunakan kendaraan yang bernama tawakkal. Itulah kendaraan yang aku gunakan menuju ke Baitullah, wahai anak muda.”

Mendengar kata-kata tersebut, anak muda itu tidak lagi menyangka orang tua yang dijumpainya di padang pasir itu gila. Bahkan, ia yakin beliau seorang ulama yang berilmu dan bijaksana.

Siapakah sebenarnya orang tua itu tadi? Dia adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama besar yang sangat terkenal kebajikannya. Ia sering mengucapkan kata-kata hikmah, seperti yang telah diucapkannya kepada anak muda berunta tadi.

Tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s