SEDIKIT

Oleh : Ustadz Samsul Afandi, SS

Apa yang membedakan kita dengan Rasulullah SAW? Di antara jawabannya terletak pada kata sedikit. Coba kita renungkan! Rasulullah SAW itu sedikit berbicara, kalau kita sedikit-sedikit berbicara; Rasulullah SAW itu sedikit tertawa, kalau kita sedikit-sedikit tertawa; Rasulullah SAW itu sedikit makan, kalau kita sedikit-sedikit makan; Rasulullah SAW itu sedikit minum, kalau kita sedikit-sedikit minum; Rasulullah SAW itu sedikit tidur, kalau kita sedikit-sedikit tidur; Rasulullah SAW itu sedikit istirahat, kalau kita sedikit-sedikit istirahat; Rasulullah SAW itu sedikit marah, kalau kita sedikit-sedikit marah; Rasulullah SAW itu sedikit emosi, kalau kita sedikit-sedikit emosi. Rasulullah SAW itu sedikit cinta harta, kalau kita sedikit-sedikit cinta harta. Nah sekarang tampaklah perbedaan yang jelas antara kita dengan Rasulullah SAW. Karena itu, Peliharalah kata sedikit itu , maka kita akan bisa mensuritauladani junjungan kita Rasulullah SAW. Insya Allah.

3 responses »

  1. Dana Adisukma says:

    Asalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh.
    afwan, saya bertanya ustadz. kemarin ada pertanyaan dan pernyataan dari hamba Allah. begini ustadz, hamba Allah itu bilang kalau semua hadist Nabi SAW itu kebanyakan yang meriwayatkan berupa kebaikan Nabi SAW saja. mulai dari “fatwa-fatwa” beliau sampai anjuran2 kebaikan dari Nabi SAW namun tidak diriwayatkan tentang kehidupan sehari-hari Nabi SAW mulai mandi, hingga hal yang lebih bersifat pribadi agar dicontoh oleh umatnya. jadi terkesan hadist2 Nabi SAW itu hanya menunjukkan sisi baik nabi saja namun sisi lemah manusia seorang Nabi SAW tidak ditunjukkan secara jelas. yang ditanyakan, bagaimana saya menjelaskan hamba Allah tersebut bahwa ada kekeliruan pemahaman tentang hal itu? pertanyaan kedua adalah, bagaimana menentukan sebuah hadist itu shahih atau tidak sedangkan terdapat banyak penafsiran dari beberapa periwayat hadist?
    syukron ustadz. assalamualaikum warrahmatullah wabarokatuh

    • annajib says:

      Wa’alikumsalam.Wr.Wb. Soal pertama: mungkin dia belum mengkaji kitab-kitab hadits yang menerangkan tentang keseharian Nabi Muhammad SAW seperti Ibnu Majah, Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nailul Autsar, Riyadus sholihin, Daliilul falihin, muwattho’ dan kitab hadits yang lainnya. Dalam kitab-kitab tersebut diterangkan semua sisi kehidupan dan prilaku beliau dari tidurhingga beliau tidur lagi. Kemudian, perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW itumengapa selalu yang disampaikan sisi kebaikannya saja, kok tidak yang jelek misalkan padahal beliau juga sebagai manusia? Ketahuilah, benar beliau itu manusia, tetapi beliau itu ma’sum (dijaga oleh Allah)dari segala kekurangan dan kejelekan. Karena itulah semua pribadi, ucapan, prilaku, hati, pikiran Nabi Muhammad SAW itu berdasarkan wahyu (petunjuk) Allah SWT. Kalau kita menganggap beliau seperti manusia kebanyakan yang tidak luput dari kesalahan dan lupa, maka keyakinan yang seperti ini jelas-jelas keliru. Karena Nabi Muhammad saw ma’sum itulah beliau itu disucikan, dijauhkan, dihindarkan darisifat-sifat jelek, dan prilaku-prilaku jelek yang biasa terjadipada diri manusia. Dan manusia sesudah nabi Muhammad tidakada yang ma’sum. Karenaitu, kiyai, ustads, habaib mempunyai banyakpeluang terjerumus dalam kesalahan dan kealpaan.
      Soal kedua: Untuk mengetahui hadits itu shohih atau dhoif, kita harus merujuk pada kitab-kitab yang sudah diakui keshohihannya. Maksudnya, jika ada hadits itu sesuai dengan kitab-kitab yang shohih (sudah dijadikan rujukan kitab hadits) maka hadits itu tergolong shohih. Cara ini bagi kita yang awam terhadap mustholahul hadits. Tetapi, bagi mereka yang memiliki ilmu mustholahul hadits bisa menentukan pakah hadits itu shohih atau tidak dapat dilihat dari sanad hadts, perawi hadts, atau matan hadts, ata dari redaksi haditsnya. Tetapi bagi orang yang tidakmengetahui (awam) tentang ilmu mustholahul hadits jangan sembrono menetapkan apakah hadits ini shihih, hadits mutawatir, hadits hasan, hadits kudsi, hadits doif, maudhu’ dlll. Lebih baik dan lebih selamat mengikuti orang-orang yang sudah memahami hadist daripada mencobasendiri untuk menentukan sendirihadits itu shohih atau dhoif. Semoga bermanfaat. disambung dalam pertemuan waktungaji. OK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s