SIKAP ISLAM TERHADAP REALISME DAN ISEALISME

Oleh: Ustadz Samsul Afandi, SS.,M.PdI

Di tengah-tengah pandangan teoritis dan aliran-aliran filsafat, sosial, politik, budaya, dan aliran ekonomi, kita dapatkan Ajaran Islam sebagai sistem, dasar, acuan, pondasi, tuntunan, dan pedoman hidup dalam mengatur hidup manusia.  Hal ini karena disaat aliran-aliran pemikiran tersebut berusaha-dengan basis rasionalismenya dan  empirisnya-berusaha untuk merumuskan aturan hidup, maka Islam sudah mempunyai aturan hidup yang lengkap untuk mengatur kehidupan manusia kapan saja dan dimana saja.

Usaha komparatif aliran-aliran pemikiran ini dengan dinul Islam hanyalah upaya untuk mengetahui sejauhmana kebenaran dan kesalahan yang dikandungnya. Ini wajar, karena aturan hidup Islam bersumber dari Wahyu Allah kepada Rasul-Nya, sedangkan aliran-aliran pemikiran adalah pandangan dan pendapat manusia yang mustahil akan mencapai tingkat kesempurnaan.

Tidaklah benar pendapat yang sebagian pemikir Muslim-ketika melakukan perbandingan ini-yang mengatakan bahwa, Islam itu pertengahan antara Idealisme dan Realisme atau berada diantara aliran ini dan alairan lainnya. Tetapi, Islam itu manhaj yang menjadi dasar, acuan, pedoman, penuntun, petunjuk, bagi seluruh aspek kehidupan manusia termasuk pandangan-pandangan teoritis dan aliran-aliran pemikiran. Aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak seperti halnya aliran pemikiran positif, yang mementingkan satu aspek kehidupam manusia dan mengabaikan aspek yang lain (sesuai tabiat pencetusnya yang dipengaruhi perasaan dan hawa nafsunya) betapapun mereka menyerukan rasionalisme, objektivitas, empirisme, dan netralisme. Islam adalah agama rahmatal lil’alamin yang menghormati manusia dengan melimpahkan rahmat Tuhan dan hidayah-Nya demi kepentingan dunia akhirat. Islam menerapkan keseimbangan bagi semua aspek kehidupan manusia dan tidak mengutamakan pada satu aspek tertentu. Semua aspek kehidupan haruslah mengikuti, tunduk, dan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Ini berarti Al-Qur’an harus menjadi imam bagi kecerdasan berpikir manusia, bukan sebaliknya, yaitu Al-quran mengikuti akal dan kecerdasan berpikir manusia. Ingat, Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang maha Sempurna dan akal adalah sebagian kecil ciptaan Allah yang memiliki keterbatasan.

Inilah sikap Islam terhadap paham idealisme dan realisme, yakni menerapkan hukum keseimbangan yang berdampak pada kebaikan dunia akhrat dibawah prinsip-prinsip umum sebagai berikut:

1. kemulyaan manusia di sisi Allah yang menundukan  isi langit dan bumi kepada manusia untuk kepentingan manusia.  Kemuliaan manusia disebutkan dalam surat al-Isra’ (17) ayat 70:

ولقد كرمنا بني آدم وحملناهم في البر والبحر ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على كثير ممن خلقنا تفضيلا

Artinya : “dan sesungguhnya Kami muliakan manusia (melebihi makhluk yang lain) dan kami tundukkan semua yang ada didarat dan dilaut dan Kami beri rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dia dari makhluk yang Kami ciptakan”.

Kemulyaan manusia dapipada makhluk yang lain meliputi fisik, akal, kemampuan berbicara, kebebasan berkehendak, harga diri dan martabat, dan ketundukan kepada Tuhan Yang Esa.

2. Tuntutan kepada manusia agar ia mengelola kehidupan di bumi ini dengan melestarikan SDA dan mendayagunakannya untuk kepentingan manusia serta melakukan banyak tugas kewajibannya, seperti:

– tanggungjawab kepada keluarga

– belajar ilmu, mengajarkannya, dan mempergunakannya untuk kemaslahatan umum

-menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar

– berjihad dijalan Allah demi kemulyaan dan tegaknya Islam

– Tunduk dan patuh terhadap aturan Islam dengan menjalankanperintah Ibadah hanya kepada Allah, menegakkan keadilan.

3. Tuntunan manusia agar manu berpikir dan merenungkan kebesaran Allah lewat ciptaan-Nya

4. Tuntutan manusia agar berakhlak baik dan mulia kepada Allah dan Rasul-Nya, manusia, alam dan lingkungannya, serta menjauhi perbutan tercela

5. Memperlakukan alam sekitar tidak dengan merusak atau menghancurkannya tetapi memanfaatkanya untuk kepentingan manusia sendiri dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara menjaga kehormatan manusia dan kelestarian alam.

6 Islam tetap memberikan kebebasan dalam berpikir, berpendapat, beribadah,  bekerja, berkarya, berinteraksi dengan yang lain dengan tetap mengikuti petunjuk dan aturan Islam, yakni tauhidullah.

dengan mengikuti prinsip-prinsip di atas, maka manusia akan dapat mewujudkan kesejahteraannya didunia dan diakhirat dan tidak membutuhkan lagi pandangan-pandangan atau pemikiran-pemikiran lain (teori lain yang liberal) kecuali sebagai bahan referensi pengetahuan.

Ketika prinsip-prinsip ini goyah -sebab benturan dan hantaman filsafat yang begitu dasyat- dan tidak memilikisandara yang kokoh, maka sudah dapat dipastikan, dia akan mendewakan realisme dan idealisme di atas Islam. Inilah sesungguhnya sekuler terseklubung yang akan menggerogoti tauhid seseorang. Semoga dapat menjadi bahan koreksi pada kualitas iman dan beragama kita semua amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s